Category Archives: Adventure

Dari Mendaki “Seulawah” hingga menemukan “arti kehidupan”

Pernah ke Aceh? Ia atau tidak jawaban nya aku kira rata-rata yang mengaku dirinya “pendaki atau istilah kerennya Mountaineer” pasti sudah tahu yang nama nya Seulawah!

Ya, seulawah itu bukan nama pesawat terbang atau nama pria berperawakan seram tapi sebuah gunung dengan ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) yang ada di Provinsi Aceh. Mungkin jika kamu belum pernah mendakinya akan mengira “biasa saja dengan ketinggian 1800 Mdpl”.

Puncak Seulawah Agam

Puncak Seulawah Agam

Untuk menghilangkan terka-terkaan kamu , Aku ingin sedikit bercerita tentang si Dia, Seulawah sebenarnya ada dua, yaitu Seulawah Agam (*Red “Aceh-indo”Agam-pria) dan Seulawah inong (*Red Aceh-indo” Inong-wanita), tapi sampai sekarang aku yang asli putra pribumi Aceh belum pernah tahu siapa dan kenapa nama dua puncak itu seakan-akan berlainan gender, yang pasti nya seulawah agam terlihat lebih gagah dan kokoh di bandingkan seulawah inong yang view nya seperti berlindung di balik seulawah agam.

Disini ku coba berbagi cerita pendakian Seulawah agam yang sudah beberapa kali aku mengecup ubun-ubunnya, Seulawah agam terletak di Kabupaten Aceh Besar,kecamatan Leumbah Seulawah atau jika kamu belum di Aceh sampai saat ini kamu bisa lihat di lembaran peta 0421-33 SEULIMUEM (skala 1:50.000 keluaran Bakosurtanal,Tahun Peta 1978) dengan koordinat triangulasi nya N 95o 39’ 18” T dan E 05o 26’ 54” U.

Seulawah Agam begitu nama nya dari sejak ku kenal, dalam situasi normal dan pendakian normal kita bisa menggapai puncaknya lebih kurang 6 – 8 jam di mulai dari pinto rimba (pintu rimba) atau sering di sebut dengan alur beton yang di tandai dengan plakat Welcome yang berisi peringatan dan etika-etika mendaki gunung yang di pasang oleh salah satu Mapala di Aceh,di alur beton ada sebuah gubuk yang di bangun masyarakat untuk tempat beristirahat dan di depan nya ada sebuah aliran seperti irigasi yang sudah di beton, air nya begitu jernih dan menyegarkan, disini menjadi tempat favorit para pendaki untuk membasuh diri dan mengambil persediaan air untuk pendakian. Dalam hal ini aku ingin menceritakan budaya atau kebiasaan aku saat mendaki Seulawah agam, aku akan menginap semalam disini untuk merasakan kesegaran air alur beton di saat malam dan pagi hari. Mungkin pertanyaan dari teman-teman “kenapa mesti bermalam di alur beton”, aku punya alasan budaya ku ini “tidak akan kita temui lagi aliran air setelah pinto rimba atau alur beton ini maka nya ku sempatkan diri untuk menikmati aliran air ini sebelum meninggalkannya.

Pinto Rimba Seulawah Agam

Pinto Rimba Seulawah Agam

Setelah alur beton kita akan sedikit mendaki dengan track yang sedikit menanjak dan itu biasanya sangat melelahkan bagi “pemula” karena awal-awal pedakian sudah merasakan tanjakan yang sedikit terjal,tapi bagi yang sudah terbiasa ini tidak menjadi pengaruh, makanya saran aku jika ingin mendaki Seulawah khususnya dan gunung-gunung lain umumnya persiapkan fisik anda sebaik mungkin,karena kebiasaan orang dalam keadaan tidak merasa lelah sebelum merasakan medan sebenarnya kebutuhan fisik akan sedikit dianggap sepele. Di jalur ini,jika jiwanya memang tidak suka mendaki akan sangat merasa bosan selama pendakian karena akan menemukan jalur panjang untuk bisa menikmati pemandangan yang berbeda dari injakan tapak pertama mereka menyusuri jalur ini hingga menemukan satu tempat lapang yang tidak begitu luas menghadap ke salah satu puncak di samping jalur seulawah,tempat ini dinamakan pinto angen (pintu angin).Dinamakan begitu karena tiupan anginnya yang memang bagai tak pernah berhenti untuk mengeringkan keringat-keringat pendaki. Menurut ku ini salah satu tempat yang paling membuai pendaki seulawah dan akan merasa sangat betah disini siapapun pendaki nya ,biasanya ini jadi tempat para pendaki ngopi sambil melepaskan lelah dan menikmati belaian angin seulawah.

Alur Beton

Alur Beton

Beranjak dari Pinto angen biasanya dengan sedikit rasa malas meninggalkannya kita akan menyusuri punggungan dan bermacam batang-batang pohon berukuran besar terlihat siap menemani perjalanan para pendaki. Di tengah perjalanan kita akan menemukan jalur yang akan sedikit membingungkan,disini banyak pendaki yang kurang cermat dan teliti akan salah mengambil jalur selanjutnya dan tidak jarang akan berputar-putar di sekitar itu saja, pesan aku jangan panick jika merasa kamu sampai disini perhatikan dengan seksama dan teliti kamu akan menemukan tanda-tanda jalur dari pendaki sebelumnya yang ditandai dengan tali jejak dan sedikit tebasan penanda jalur. Jalur Ini di namakan “Beringin tujoh” (Beringin tujuh) yang kata para pendaki dulu disini ada tujuh beringin dan sekarang hanya tinggal beberapa saja. Selanjutnya jalur yang kamu temui akan lebih terjal dengan kemiringan yang semakin bertambah dan kamu akan disuguhkan hutan yang luar biasa, bebatuan dan terlihat lumut-lumut tidur lelap sesukanya bagai di film-film horor luar negeri, di jalur kita akan temukan satu batu yang view nya mirip gajah dilengkapi dengan belalainya dan tempat ini bisa jadi tempat istirahat para pendaki karena medannya agak landai dan cocok untuk ngopi sore sekaligus mungkin bisa menikmati replika gajah dari batu besar yang duduk manis di antara pepohonan lebat, dan kita sudah sampai yang para pendaki namakan “batu gajah”. Beranjak dari situ kita akan mendaki yang jalurnya mirip tangga yang tersusun dari batu dan medan nya cukup menanjak, jika kita tidak mempersiapkan fisik dengan baik disini akan sangat terasa menguras tenaga.

Lebatnya hutan Seulawah Agam dilihat dari Pinto Angen

Lebatnya hutan Seulawah Agam dilihat dari Pinto Angen

Dan akhirnya setelah melewati countur demi countur dengan medan tangga batu kita akan sampai di satu tempat seperti lembah,disana bisa kita jumpai penampung air yang di buat oleh pendaki-pendaki dulu, kita bisa mendirikan tenda disitu jika personil atau team pendakian nya beranggota banyak, ini kami namakan shelter sebelum puncak karena sedikit lagi kita mendaki akan kita temui satu puncakan yang lengkap dengan pilar P137 Seulawah Agam yang di renovasi oleh Pecinta Alam se-Aceh 17-08-1995, 50 tahun Indonesia merdeka.

Dari sedikit gambaran pendakian Seulawah yang aku ceritakan, “menurut aku” banyak hal yang bisa aku petik untuk mengenal diriku sendiri, contoh kecil yang bisa sedikit aku ulas “dari awal pendakian yang di temani alur beton hingga track yang melelahkan untuk kita lewati dan pemandangan pinto angen yang membuai dan akhirnya kita berdiri kokoh di puncak” aku merenungkan sambil duduk bersila di depan pilar Seulawah, sebenar nya itu persis sama dengan kehidupan yang di jalani manusia, Allah memberi kenikmatan dan menguji nya dengan sedikit cobaan dan kenikmatan haruskah kita menyerah,terbuai dan lupa pada tujuan hidup kita yang sebenarnya? Kita hanya sementara didalam perjalanan ini lakukanlah sungguh-sungguh apa yang menjadi kewajiban Insya Allah kita menjadi orang-orang yang menang dan berhasil. Aku sadar aku hanya hamba yang sedang melakukan perjalanan/pendakian mengarungi hidup.

Penulis “Chary Broe Dh’frog (Bukhari)

Ka.Div Mountaineering UKM-PA Jabal Everest

Gunung Halimon

Mistis, satu kata yang paling sering dikaitkan dengan Gunung Halimon. Gunung yang terletak Blang Pandak,Kecamatan Tangse,Pidie ini konon orang sering menyebutnya gunung para aulia.Di puncak Gunung Halimon tersebut Muhammad Hasan Ditiro memploklamirkan Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember 1976.Boleh percaya, boleh tidak. Untuk sedikit pembuktian coba saja melakukan pencarian dengan kata kunci Gunung Halimon di Google. Saya sendiri menemukan banyak cerita mistis yang dialami para pendaki ketika melakukan ekspedisi di gunung ini. Namun bukan pendaki gunung namanya kalau menghindari pendakian gunung hanya gara-gara mitos seputar mistis.

Gunung Halimon di lihat dari desa Blang Pandak.

Gunung Halimon di lihat dari desa Blang Pandak.

Gunung Halimon terletak dikawasann Tangse kabupaten Pidie dengan ketinggian  1803 mdpl dengan koordinat 050 03’ 38,8’ Lintang Utara,0960 00.00,8 Bujur Timur, dengan suhu berkisar antara 30c sampai dengan 40c berbatasan dengan sebelah timur dengan Gle Leuhop,sebelah barat dengan panton Rasi, sebelah utara dengan Gle Meureuseu,dan sebelah selatan dengan desa Blang Pandak. Gunung Halimon belum memiliki rute pendakian yang biasa digunakan para pendaki. Kami Team Ekpedisi Mapala Jabal Everest membuat rute sendiri melalui Blang Pandak,pertama kami melewati panton rasi langsung ke kaki Gunung Halimon.

Jalan bebas hambatan ke panton rasi

Jalan bebas hambatan ke panton rasi

Perjalanan saya mulai dari sekretariat Mapala Jabal Everest melewati Kota Bakti , disambung perjalanan darat Gle Gapui – Tangse  ± 2 jam menggunakan sepeda motor. Untuk sampai di Blang Pandak, saya dan tim masih harus jalan – jalan berliku,kadang – kadang ada juga jalan yang sudah longsor.maklum Tangse daerah rawan longsor. Kebetulan kami malam di sertai dengan derasnya hujan dalam perjalanan,sungguh perjalanan yang cukup melelahkan.

Jam menunjukkan sekitar pukul 20.00 WIB ketika saya menginjakkan Pulo Seunong,kami menginap di rumah family salah satu anggota team saat itu. Hawa sejuk angin pegunungan terasa begitu dingin menyapa kulit. Sambil melakukan sedikit penyesuain diri dengan cuaca pegunungan, saya dan team menikmati hidangan nasi sambel super pedas yang dibawa dari kota Tangse. Kegiatan pendakian kami ke Gunong Halimom beranggotakan tujuh (7) pendaki dari Mapala Jabal Everest,Muhajir,Safrizal,Benny,Safrizal,Hafizd,Ismunandar,Safrida dan saya sendiri Almahdi.sebelum melakukan pendakian seperti biasa para pendaki mempersiapkan segala keperluan pendakian seperti alat – alat navigasi yang terdiri dari kompas,peta,GPS dan sebagainya dan juga mempersiapkan logistic yang diperlukan.

wajah - wajah garang pendaki Halimon..

wajah – wajah garang pendaki Halimon..

Pendakian diawali pada pukul 08.00 Wib dimana start pertama dari Blang pandak sebuah kampung yang berada di kaki gunung tersebut,kami menuju panton rasi kira – kira jarak tempuh lebih kurang 6km,Panton rasi merupakan tempat para penduduk desa mencari nafkah dengan cara bertani.pada saat dalam perjalanan banyak kami jumpai tumpukan kayu hasil penenbangan liar (ilegal logging),padahal pada saat itu pemerintah baik tingkat propinsi maupun kabupaten sedang gencar melarang penebangan liar,apalagi dilakukan dalam kawasan hutan lindung.perjalanan terus kami lanjutkan hingga sampai ke kebun warga,kebun yang terletak pas di kaki gunung Halimon dan kamipun rehat sejenak sambil menikmati sebatang cigaret 234,tiap istirahat anggota team terlihat selalu gembira,tertawa walau terasa lelah.

Suasana di kebun terakhir..

Suasana di kebun terakhir..

Banyak yang bilang Gunung Halimon rute tidak cocok untuk pendaki karena tidak ada jalur pendakian. Saya sudah mulai ngos-ngosan di awal pendakian. Kedua kaki saya rasanya berat sekali untuk digerakkan karena jarak tempuh dari Blang Pandak ke kaki Gunung Halimon kurang lebih 6 km perjalanan kaki. Beban tas carrier dipunggung tiba-tiba bertambah berat. Jantung rasanya mau copot, beradu cepat dengan irama nafas memompa oksigen ke seluruh tubuh. Siang menjelang ketika rombongan saya tiba di Alur Pisang (Alue Pisang) kami beri naman,karena banyak di tumbuhi pisang monyet. Kami beristirahat dan mempersiapakan makan siang diantara lebatnya hutan halimon.

Setelah selesai makan pendakian kami lanjutkan,pembukaan jalur pendakianpun kami lanjutkan sambil menikmati indahnya panorama alam yang masih belum terjamah oleh para penebang liar (ilegal logging).Sekitar pukul 16.00 WIB akhirnya kami tiba juga di tempat yang landai yang merupakan selter terakhir bagi kami sebelum mencapai puncak. Kami mendirikan tenda . Di sana kabut merusak pandangan kami. Sebelum beristirahat, teman-teman saya terlebih dulu menyiapkan makan malam dengan menu nasi putih dan ikan goreng dicampur sardines untuk mengganti energi yang hilang selama pendakian.Semoga rencana menuju puncak tidak akan gagal walaupun hujan masih menetes dari langit membasahi bumi.

Selter terakhir menuju puncak..

Selter terakhir menuju puncak..

Pagi itu kami hanya berdiam saja di tenda setelah sarapan sambil berharap kabut akan akan segera hilang. Penantian kami tidak sia-sia. Langit akhirnya menampakkan warnanya yang biru. Awan-awan dan kabut yang menyelimuti dari pagi hari akhirnya menyingkir. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan untuk melakukan pendakian ke puncak. Hanya butuh waktu sekitar 6 jam dari selter menuju puncak Halimon. Gunung Halimon sendiri memiliki 2 puncak kalau kita lihat dari Blang Pandak. Di antara dua puncak ini, Puncak yang kami capai merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 1083 mdpl.

Bendera kebanggan JE berkibar di Puncak Halimon.

Bendera kebanggan JE berkibar di Puncak Halimon.

Saat berada di puncak, hujanpun turun kembali. Cuaca di Gunung Halimon memang agak sulit ditebak pada saat pendakian itu. Dengan pertimbangan cuaca itu ditambah keadaan fisik yang masih kurang fit akhirnya kami memutuskan kembali. Perjalanan turun kadang membutuhkan waktu yang lebih cepat dari pada perjalanan naik. Namun dibutuhkan kehati-hatian yang lebih karena medan yang cukup curam dan licin. Di beberapa lokasi, rute yang harus dilalui bahkan sangat licin apalagi hujan.Di sepanjang perjalanan, mata akan disajikan pemandangan panorama alam yang tampaknya masih cukup lestari di Gunung Halimon.

Menikmati indahnya ciptaan Tuhan..

Menikmati indahnya ciptaan Tuhan..

Dengan perjuangan yang cukup melelahkan, kami tiba dengan selamat tanpa kekurangan apapun di Blang pandak sekitar pukul 16.00 WIB. Di balik semua kisah mistis dan misterinya ternyata Gunung Halimon memiliki keindahan pemandangan yang sungguh luar biasa. Indonesia itu memang indah kawan.

 

By : Almahdi

Pendakian Gunung Leuhob

Gunung Leuhob adalah gunung yang terletak di kecamatan Tangse Kabupaten Pidie Indonesia. Gunung ini dikelilingi hutan yang sangat lebat dan merupakan habitat harimau sumatera dan Gajah Sumatera. Puncak Gunung Leuhob berada pada ketinggian 2.000 mdpl. Keindahan panorama yang natural dengan kekayaan flora dan fauna dapat di temui mulai dari dataran rendah hingga puncak gunung Leuhob, tidak hanya untuk dinikmati tetapi sangat baik untuk melakukan penelitian dan pendidikan. Pendakian ke puncak gunung Kerinci memakan waktu dua hari mulai dari Blang Pandak.

Perjalanan dengan sepeda motor sejauh 60 Km harus saya tempuh dengan motor jupiter kesayangan. Motor yang setia membawa saya menjelajah berbagai tempat. Sepanjang jalan terutama setelah memasuki kecamatan Tangse disis jalan pemandangan pegunungan bukit Barisan. Disusul kemudian dengan bantaran sungai dan hamparan sawah yang bertingkat. Tidak berhenti sampai disitu, mata kami dimanjakan kembali dengan panorama indahnya perkebunan – perkebunan pinus yang sangat luas berbukit-bukit.  Pemandangan itu menghinoptis saya dan sepeda motor saya. Maksudnya begini, mata dan hati memaksa kami menghentikan sepeda motor untuk sejenak memandang luasnya perkebunan pinus yang tampak begitu indah. Jadilah saya hentikan sepeda motor di tepi jalan. Menghirup udara sedalam-dalamnya yang sangat segar ketika memasuki rongga paru-paru.

Perjalanan Jupiter kesayanganku

Perjalanan dengan  Jupiter kesayanganku

Hari itu tanggal, 29 Desember 2011. Kami berangkat beranggotakan 5 orang mengendarai 3 buah motor. Saya perkenalkan anggota tim Expedisi Ekplorasi Gunung Leuhob Mapala Jabal Everest yaitu, Saya sendiri (Almahdi), Rahmad Afrizal, Saiful Wadhan,Diswan Saputra dan Rayzatul Akmal. Perjalanan panjang yang kami lalui hingga sampailah kami di tempat tujuan yaitu desa terakhir Blang Pandak. Sesampainya disana,  hari sudah malam..Malam itu kami memutuskan untuk menginap malam ini dirumah kepala desa dengan. Itu adalah tempat dimana kami menginap malam pertama

Di rumah kepala desa Blang Pandak

Di rumah kepala desa Blang Pandak

Pagi tiba, kami bangun dan udara dingin yang dahsyat segera menyerang tubuh. Wajar saja, Blang Pandak berada di kaki Gunung Halimon. Pagi itu kami hanya sarapan. Kemudian kami mempersiapkan segala keperluan.Hari ini kami langsung melakukan pendakian.

Siap berangkat ni broe..

Siap berangkat ni broe..

Kami semua berkumpul tepat depan rumah kepala desa mengabadikan foto, berdoa dan kemudian bergerak. Langkah kaki pertaman mulai menapaki jalur awal pendakian gunung Leuhob. Jalur masih datar rasa lelah belum terasa hingga tak lama kemudian kami sampai di sebuah sungai. Di sana kami tidak berhenti, berjalan terus sampai selter pertama. Selter ini terkenal dengan jalur perlintasan rusa. Disini kami istirahat sebentar sembari ngobrol. Enaknya mendaki gunung Leuhob karena belum pernah ada pendaki atau pencita alam yang melakukan pendakian di karenakan gunung tersebut agak jauh dari akses masyarakat dan terkenal juga gunung yang bermitos tinggi setelah Halimon itu ke gunung itu yang menjadi impian kami untuk coba mendakinya.

Nampak wajah - wajah mulai serius..

Nampak wajah – wajah mulai serius..

Cukup istirahat kami lanjutkan perjalanan. Ternyata jarak tempuh lumayan jauh dan medan sudah banyak menanjak. Sementara perut sudah mulai lapar karena ini sudah lewat dari jam makan siang. Kami berencana makan siang di tempat yang agak landai sekalian istirahat agak lama disana. Setelah sekian lama berjalan mendaki sampailah kami di sebuah alur yang kami beri nama selter kedua. Brrr….hujan mulai turun hawa dingin mulai terasa disini. Mantel segera saya kenakan untuk menghalau hujan ini. Sembari makan siang dengan lauk alakadarnya. Usai makan istirahat sambil menghisap sebatang rokok kami packing dan segera melanjutkan pendakian dana kamipun mulai membuka jalur.

Kegiatan sambil masak..jangan abaikan waktu

Kegiatan sambil masak..jangan sia – siakan waktu

Hawa dingin, sedikit kabut, tanjakan terjal dan licin kami lalui. Untuk sampai dimana kami bisa menentukan posisi kami di peta dan tibalah kami di sebuah tempat yang kami beri nama kubang dimana di tempat tersebut ada sebuah kubang yang lumayan luas. Sang navigator pun mencari koordinat. Agak lama kami di kubang tersebut dan mengumpulkan tenaga yang mulai terserap banyak.

Navigator lagi serius..

Navigator lagi serius..

Selanjutnya kami bergerak lagi menuju tempat berikutnya. Karena tenaga yang mulai terkuras kami kembali memutuskan istirahat lagi. Kali ini kami istirahat sembari memanaskan air untuk ngopi. Mengingat hawa dingin yang mulai terasa sejak kami berada di diantara pepohonan rotan. Kopi panas dan biskuit kami rasa cocok untuk melawan dingin dan rasa lapar.

Terlihat segelas kopi diantara kesibukan sang navigator..

Terlihat segelas kopi diantara kesibukan sang navigator..

Setelah itu kami lanjutkan lagi perjalanan dan senja mulai tiba. Segala perlengkapan yang kami bawa untuk melawan dingin pun kami kenakan antara lain, baju 2 lapis, Jacket, Sarung tangan, Celana 2 lapis, kupluk tebal, senter dll. Walau begitu hawa dingin tetap terasa. Memang saya sadari sepenuhnya, mendaki gunung itu beresiko tinggi dan sangat dekat dengan marabahaya. Itulah sebabnya setiap saya hendak mendaki gunung saya selalu niat baik da lam hati, berdoa minta perlindungan pada Allah dan berhati-hati. Sudah banyak pendaki yang menjadi korban di gunung.

Kembali ke topik, tujuan kami saat ini adalah mencari tempat bermalam. Dimana itu adalah menjadi selter ke tiga bagi kami. Tempat dimana pendaki mendirikan tenda terakhir dan persiapan untuk melanjutkan perjalanan besok Setibanya.kai di shelter 3 kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tapi ternyata sangat sulit mencari tempat mendirikan tenda karena disini banyak pepohonan yang besar dan akar – akar yang besar timbul keatas permukaan tanah. Setelah mencari kesana kemari akhirnya kami dapatkan lokasi yag cukup bagus. Terletak di bawah pepohonan dan dekat jalur gajah sumatra, kami memberanikan diri bermalam di sekitar jalur tersebut karena menurut perkiraan kami gajah baru melewati jalur tersbut 2 hari yang lalu, hal itu terlihat dari jejek dan kotoran yang terdapat di sekitar jalur. Jadilah kami mendirikan tenda untuk tempat bermalam, beristirahat dan perlindungan dari cuaca buruk di luar. Sebelum tidur kami memasak untuk makan malam. Usai makan makan kami semua tidur untuk memulihkan dan mengumpulkan tenaga. Esok pagi kami akan melakukan Summit Attack atau mendaki ke puncak  gunung Leuhob.

Rumah kami di Gunong Leuhob..

Rumah kami di Gunong Leuhob..

Pagi hari kami bangun agak terlambat. Yang tadinya rencana bangun pukul 6 kami bangun pukul 6:30. Jujur saja disubuh itu saya sangat malas bangun karena dingin yang menusuk sampai ketulang. Semangat saya timbul setelah mengingat pencapaian saya yang susah sejauh ini. Segera saya packing membawa apa yang di butuhkan saat menuju puncak.

Mulai berjalan menjauhi tempat bermalam dengan langkah yang awalnya dengan semangat 45 dihantam hujan rintik – rintik yang membuat dingin semakin extrem saja. Sewaktu saya melihat ke sekeliling tampak kabut menyelimuti sekeliling kami. Kami mulai membuka jalur berjalan perlahan mencari puncak. Sungguh extrem jalur ini, kami berjalan di antara pepohonan rotan yang lebat,hujan tiada henti membuat jalur berlumpur yang membuat sepatu kadang terbenam sehingga sulit berjalan. Di tambah bila kabut meyelimuti membuat pandangan kami kurang jelas.. baru gunung Leuhob inilah saya mengalami hal semacam ini. Benar-benar gunung yang susah untuk di daki, butuh semangat dan keinginan kuat untuk bisa melewati rintangan yang ada.

salah satu jalur pendakian yang tergenang air..

salah satu jalur pendakian yang tergenang air..

Sekitar setengah hari kami berjalan tidak nampak puncak gunung leuhob,yang ada berupa rawa – rawa yang luas ditumbuhi rerumputan kalau kita berjalan diatas rumput – rumput tersebut agak terasa bergoyang seperti gempa terletak persis di sebelah kanan puncak gunung Leuhob.Kami terus berjalan melawati rawa – rawa tersebut sambil menentukan posisi kami di peta.Jam di tanganku menunjukan pukul 12.30,selama dalam perjalanan hujan rintik – rintik tiada henti membasahi kami sampai kami beristrirahat makan siang.

Rawa - rawa Gunung Leuhob sebagian diselimuti kabut

Rawa – rawa Gunung Leuhob sebagian diselimuti kabut

Lepas dari istirahat kami harus melanjutkan perjalan untuk mencari puncak. Medannya berupa pepohonan rotan. Sangat sulit berjalan di medan seperti ini karena banyak duri – duri yang siap menusuk.Disini bukan hanya kaki yang bekerja, tangan juga. Tenaga saya sudah terkuras habis disini, saya hampir saja putus asa dan merasa tidak saggup lagi melanjutkan perjalanan ini. Di pepohonan saya berhenti mengumpukan tenaga dan melihat koordinat di GPS dan-menimbang ini puncak atau bukan. Ternyata benar ini bukan puncak yang kami cari.Pikiran-pikiran itu berkecamuk hebat dalam otak saya.

Diantara lumut - lumut yang menyelimuti pepohonan.

Diantara lumut – lumut yang menyelimuti pepohonan.

Akhirnya setelah berpikir panjang dan kami berbalik mencari jalur yang lain. Saya tekatkan lagi berjalan menuju puncak !!! Kami mengubah strategi, berjalan perlahan namun pasti. Dalam artian berjalan dengan langkah pendek agar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga, namun tetap bergerak. Tapi tetap saja, tenaga saya memang sudah terkuras habis. Kaki ini terasa sagat berat untuk dilangkahkan. Namun tekad sudah saya tetapkan, harus terus mendorong batas kemampuan sampai puncak. Satu pikiran yang membuat saya semangat waktu itu adalah, orang pertaman berdiri di Puncak Gunung Leuhob. Gunung impian saya 1 tahun lalu, dan saat ini sedikit lagi saya sampai ke uncak impian itu. Perlahan namun pasti saya langkahkan kaki ini, menapaki terjalnya medan pendakian menuju puncak.Jam di tanganku menuju pukul 4.30,kata kawan – kawan sahabat pencinta alam,kita lanjutkan perjalanan besok,berhubung kita sangat kelelahan kami memutuskan untuk bermalam di sebuah pinggiran sungai yang sangat jernih airnya seperti air aqua dan bebatuan yang ada di sekitar sungai di selimuti oleh lumut.

Brrr...dingin airnya kawan..

Brrr…dingin airnya kawan..

Setelah melalui malam yang panjang dan pagipun tiba,kami bangun jam 7.00 makan,beres – berest dan melanjutkan perjalanan menuju puncak.Perjalanan memakan waktu 5 jam .Ada satu orang pendaki yang memberi semangat yang mengatakan puncak sudah di depan mata. Perkataan itu membuat semangat saya bagkit lagi. Segera saya percepat langkah dan tibalah saya di suatu dataran yang tidak lebar, inilah dia puncak Gunung Leuhob !!! Tepat jam 11.30 Alhamdulillah, Allahu akbar !!! itulah kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika sampai di puncak. Saiful Wadhan langsung mengumandangkan azan. Segera saya keluarkan bendera Mapala Jabal Everest yang saya bawa di dikibarkan di puncak.

Ini dia muazimnya Gunong Leuhob

Ini dia muazimnya Gunong Leuhob

Puncak Leuhob ini berbeda dari puncak-puncak gunung yang pernah saya pijak. Puncaknya sangat sempit, langsung berhadapan dengan jurang yang sangat dalam. Dan sewatu memandang ke sekitar, tidak ada yang luar biasa. Hanya terlihat lebatnya pepohonan yang luar biasa kami berdiri di ketinggian 2 000 meter dan bisa mencapai puncak gunung leuhob yang penuh misteri menurut masyarakat Blang pandak dan masyarakat Tangse. Sungguh beruntung saya mendapat kesempatan berdiri di puncak Gunung Leuhob ini, pengalaman yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Suatu kebanggan atas keberhasilan dari perjuangan panjang.

Ini dia wajah - wajah pendaki dari Jabal Everest.

Ini dia wajah – wajah pendaki dari Jabal Everest.

Setelah mengabadikan momen istimewa tersebut ke dalam kamera untuk kenangan, kami bergegas turun karena kabut mulai menebal dan hujan juga telah telah turun Menurut info yang saya dapatkan, karakteristik gunung Gunung Leuhob memang begitu. Hujan tidak pernah berhenti di sekitar gunung tersebut sehingga permukaan tanah berlumpur dan di beri nama Gunung Leuhob (Gunung Lumpur).

Target selanjutnya Gunung Ajibon..di dapan mata.

Target selanjutnya Gunung Ajibon..di depan mata.

Bila sewaktu mendaki kami butuhkan waktu lebih dari  2 hari dari desa Blang pandak Saat turun kami cuma habiskan waktu sekitar 6 jam hingga tiba di kampung terakhir. Kaki pun mulai melangkah turun. Buat masalah turun gunung itu adalah bagian yang saya sukai. Karena saya bisa meluncur di pasir untuk turun. Sangat banyak pengalaman baru yang saya dapatkan di gunung Leuhob ini, ini semua adalah pengalaman berharga yang mungkin tak akan terlupakan seumur hidup saya.

Singkat cerita sampailah kami di desa Balng pandak. Disana kami beristirhat di depan sebuah batu besar menghadap ke arah gunung Halimon Wow…pemandangan dari sini pun tak kalah indahnya. dari sini.

Sebagian aktivitas warga Blang Pandak

Sebagian aktivitas warga Blang Pandak

Masak sudah, kini saatnya bersantap siang. Hmm…dengan rasa lapar seperti ini menu sederhana berupa mie instan, sarden dan sambal kering teri kacang,daun paku di santap habis. Setelah makan kami sambung lagi dengan minum capucino. pulihlah sudah tenaga, kembalilah sudah kalori yang kami keluarkan. Kami merencanakan ke sekret malam dengan. Sementara saat ini jam masih menunjukan pukul 17.30 . Hmm…segera saja kami manfaatkan jeda waktu yangada untuk tidur. Memulihkan tenaga agar kondisi badan fit saat turun  tadi. Tidur sebentar namun nyenyak karena kecapean, akhirnya kami bangun segera berkemas dan bersiap untuk balik.

Alhamdulilah, satu petualangan baru telah saya lakukan untuk menambah daftar tempat-tempat eksotis yang pernah saya datangi. salah satunya ini, Gunung Leuhob. Sebuah gunung yang amat indah. Akhirnya saya berhasil sampai kesini dan Terima Kasih Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah menginjinkan saya menikmati salah satu alam indah ciptaanNya.

Oke, sepertinya sampai disni dulu saya bercerita tentang petualnagan saya mendaki gunung Leuhob berketinggian 2.000 meter. Namun cerita saya menjelajahi gunung Aceh ini belum usai. Usai sukses pendakian gunung Leuhob ini saya melanjutkan pendakian ke Gunung Peut Sago. Nantikan kelanjutan kisah pendakian saya ke Gunung Peut Sagoe di postingan yang akan datang. Akhir kata saya ucapakan terima kasih untuk pembaca setia blog saya ini. Bila berkenan marilah kita berkomunikasi melalui kotak komentar yang ada di bawah. Terima kasih.

Anggota team ekpedisi Gunung Leuhob..

Anggota team ekpedisi Gunung Leuhob saat pelepasan oleh Purek III ..

 

By.Almahdi

Lingkok Kuwieng

Memulai perjalanan dari kampus tepatnya Senin 16 Maret 2012 pukul 13.00 Dari Sekretariat tercinta UKM PA Jabal Everest. Kami langsung menuju kota Padang Tiji Kabupaten pidie. perjalanan sejauh 1 jam. selepas dari pusat Kota Padang Tiji kami melanjutkan perjalanan untuk menuju desa Menasah Trieng. mulai disinilah perjalanan dengan akses yang cukup rusak harus kami lewati. sekitar jam 4 kami sampai di daerah perkebunan coklat kami mengisi perut dengan makanan ringan dan segelas coffemix hangat telah di sediakan sebelum berangkat.

Di Kota Padang Tiji

Di Kota Padang Tiji

Kamipun melanjutkan Perjalanan off road dengan kereta menuju Lingkok Kuwieng, perjalanan sejauh kurang lebih 10 km ini bisa di tempuh kurang lebih 2 jam. maklum jalannya off road. melewati perbukitan ilalang yang indah membuat mata menjadi melek. dan setelah kurang lebih 2 km kamipun harus bersiap menahan nafas untuk melewati jalur off road. untung para pecinta alam sudah berpengalaman melewati jalur tersebut. dan beruntung semalam tidak hujan. meskipun bekas hujan beberapa hari yang lalu masih ada dan genangan lumpur pun juga ada. beberapa sahabat pencinta alam terpacu adrenalinnya melewati jalan off road tersebut. dan sesampainya di parkiran terakhir tepatnya di kebun terakhir, kami istirahat karena besok melanjutkan perjalanan menuju Lingkok Kuwieng Sambil melepas lelah dan menghela nafas panjang selepas melewati jalanan yang luar biasa itu. dan mempersiapkan makan malam dan perbekalan untuk lanjut tracking menuju Lingkok Kuwieng besok.perjalanan yang sangat melelahkan membuat kami tertidur lelap setelah makan malam…

Salah satu jembatan ke Lingkok Kuiewng

Salah satu jembatan ke Lingkok Kuiewng

Kondisi jalan Lingkok Kuwieng

Kondisi jalan Lingkok Kuwieng

Esoknya temapt tanggal 17 Maret 2012 jam 08.30 abis sarapan kami beres – beres kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Lingkok Kuwieng . beruntung waktu itu masih pagi. terik matahari masih belum terlalu menyengat. kita harus menuruni bukit untuk sampai Lingkok Kuwieng. tetapi jalur untuk menuju kesana sudah ada dan cukup baik. sekitar 45 menit

Suasana di tempat perkebunan terakhir

Suasana di tempat perkebunan terakhir

Nampak dari kejauhan sepanjang perjalanan Lingkok Kueing terlihat begitu kecil. langkah kaki terus berjalan, melewati hutan yang indah. dan akhirnya kami pun sampai di Lingkok Kueing yang indah. sebuah keindahan alam yang masih cukup tersembunyi dan alami. sungguh mempesona. puji syukur pun senantiasa selalu terucap. mengagungkan namaMu atas segalah nikmat ini.

Jalan setapak menuju Lingkok Kuwieng

Jalan setapak menuju Lingkok Kuwieng

Reporter sedang melaporkan laporan perjalanan bahwa team akan segera tiba ke lokasi..hehe

Reporter sedang melaporkan laporan perjalanan bahwa team akan segera tiba ke lokasi..hehe

Mulai mengatur pose dan pada narsis deh. sambil menikmati bekal yang kita bawa sebelumnya. waktu itu debit air cukup besar jadi harus berhati hati agar tidak jatuh ke arus sungai. dan bebatuan nya pun cukup licin jadi harus hati hati pula untuk melangkah.

Wel come to Lingkok Kuwieng.

Wel come to Lingkok Kuwieng.

Jangan lompat dulu broe..

Jangan lompat dulu broe..

Salah satu gaya photo sahabat pecinta alam

Salah satu gaya photo sahabat pecinta alam

Lingkok Kuwieng di lihat dari helekopter

Lingkok Kuwieng potret dari udara

Setelah puas bersantai menikmati keindahan Lingkok Kuwieng, sambil ngobrol, foto foto dan menikmati makanan. saatnya kembali ke perkebunan tadi . kali ini perjalanan harus di lewati dengan menanjak atau mendaki. cukup melelahkan memang saat tracking kembali, karena narus naik. kami pun beberapa kali beristirahat melepas lelah. 60 menit akhirnya kami sampai

Lelah, dan lapar tentunya, dan makanan sudah di sediakan yang kami persiapkan sebelumnya. menu sederhana dengan suguhan alam yang indah membuatnya menjadi nikmat. setelah menyantap makanan dan melepas lelah sejenak. kamipun melanjutkan menuju desa Menasah Trieng dengab kereta. melewati jalur off road yang sama seperti berangkat. luar biasa perjalanan kali ini. dan sampailah di sebuah warung dimana kami sering nongkrot saat kami melakukan perjalanan sebelumnya sampai dsini kami bersih bersih, sholat asar dan ngemil. sekitar pukul 17.00 kami meninggalkan desa Menasah Trieng dan kembali menuju sekretariar tercinta.

Salam dari saya : Almahdi