Author Archives: penyut adventure

Dari Mendaki “Seulawah” hingga menemukan “arti kehidupan”

Pernah ke Aceh? Ia atau tidak jawaban nya aku kira rata-rata yang mengaku dirinya “pendaki atau istilah kerennya Mountaineer” pasti sudah tahu yang nama nya Seulawah!

Ya, seulawah itu bukan nama pesawat terbang atau nama pria berperawakan seram tapi sebuah gunung dengan ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) yang ada di Provinsi Aceh. Mungkin jika kamu belum pernah mendakinya akan mengira “biasa saja dengan ketinggian 1800 Mdpl”.

Puncak Seulawah Agam

Puncak Seulawah Agam

Untuk menghilangkan terka-terkaan kamu , Aku ingin sedikit bercerita tentang si Dia, Seulawah sebenarnya ada dua, yaitu Seulawah Agam (*Red “Aceh-indo”Agam-pria) dan Seulawah inong (*Red Aceh-indo” Inong-wanita), tapi sampai sekarang aku yang asli putra pribumi Aceh belum pernah tahu siapa dan kenapa nama dua puncak itu seakan-akan berlainan gender, yang pasti nya seulawah agam terlihat lebih gagah dan kokoh di bandingkan seulawah inong yang view nya seperti berlindung di balik seulawah agam.

Disini ku coba berbagi cerita pendakian Seulawah agam yang sudah beberapa kali aku mengecup ubun-ubunnya, Seulawah agam terletak di Kabupaten Aceh Besar,kecamatan Leumbah Seulawah atau jika kamu belum di Aceh sampai saat ini kamu bisa lihat di lembaran peta 0421-33 SEULIMUEM (skala 1:50.000 keluaran Bakosurtanal,Tahun Peta 1978) dengan koordinat triangulasi nya N 95o 39’ 18” T dan E 05o 26’ 54” U.

Seulawah Agam begitu nama nya dari sejak ku kenal, dalam situasi normal dan pendakian normal kita bisa menggapai puncaknya lebih kurang 6 – 8 jam di mulai dari pinto rimba (pintu rimba) atau sering di sebut dengan alur beton yang di tandai dengan plakat Welcome yang berisi peringatan dan etika-etika mendaki gunung yang di pasang oleh salah satu Mapala di Aceh,di alur beton ada sebuah gubuk yang di bangun masyarakat untuk tempat beristirahat dan di depan nya ada sebuah aliran seperti irigasi yang sudah di beton, air nya begitu jernih dan menyegarkan, disini menjadi tempat favorit para pendaki untuk membasuh diri dan mengambil persediaan air untuk pendakian. Dalam hal ini aku ingin menceritakan budaya atau kebiasaan aku saat mendaki Seulawah agam, aku akan menginap semalam disini untuk merasakan kesegaran air alur beton di saat malam dan pagi hari. Mungkin pertanyaan dari teman-teman “kenapa mesti bermalam di alur beton”, aku punya alasan budaya ku ini “tidak akan kita temui lagi aliran air setelah pinto rimba atau alur beton ini maka nya ku sempatkan diri untuk menikmati aliran air ini sebelum meninggalkannya.

Pinto Rimba Seulawah Agam

Pinto Rimba Seulawah Agam

Setelah alur beton kita akan sedikit mendaki dengan track yang sedikit menanjak dan itu biasanya sangat melelahkan bagi “pemula” karena awal-awal pedakian sudah merasakan tanjakan yang sedikit terjal,tapi bagi yang sudah terbiasa ini tidak menjadi pengaruh, makanya saran aku jika ingin mendaki Seulawah khususnya dan gunung-gunung lain umumnya persiapkan fisik anda sebaik mungkin,karena kebiasaan orang dalam keadaan tidak merasa lelah sebelum merasakan medan sebenarnya kebutuhan fisik akan sedikit dianggap sepele. Di jalur ini,jika jiwanya memang tidak suka mendaki akan sangat merasa bosan selama pendakian karena akan menemukan jalur panjang untuk bisa menikmati pemandangan yang berbeda dari injakan tapak pertama mereka menyusuri jalur ini hingga menemukan satu tempat lapang yang tidak begitu luas menghadap ke salah satu puncak di samping jalur seulawah,tempat ini dinamakan pinto angen (pintu angin).Dinamakan begitu karena tiupan anginnya yang memang bagai tak pernah berhenti untuk mengeringkan keringat-keringat pendaki. Menurut ku ini salah satu tempat yang paling membuai pendaki seulawah dan akan merasa sangat betah disini siapapun pendaki nya ,biasanya ini jadi tempat para pendaki ngopi sambil melepaskan lelah dan menikmati belaian angin seulawah.

Alur Beton

Alur Beton

Beranjak dari Pinto angen biasanya dengan sedikit rasa malas meninggalkannya kita akan menyusuri punggungan dan bermacam batang-batang pohon berukuran besar terlihat siap menemani perjalanan para pendaki. Di tengah perjalanan kita akan menemukan jalur yang akan sedikit membingungkan,disini banyak pendaki yang kurang cermat dan teliti akan salah mengambil jalur selanjutnya dan tidak jarang akan berputar-putar di sekitar itu saja, pesan aku jangan panick jika merasa kamu sampai disini perhatikan dengan seksama dan teliti kamu akan menemukan tanda-tanda jalur dari pendaki sebelumnya yang ditandai dengan tali jejak dan sedikit tebasan penanda jalur. Jalur Ini di namakan “Beringin tujoh” (Beringin tujuh) yang kata para pendaki dulu disini ada tujuh beringin dan sekarang hanya tinggal beberapa saja. Selanjutnya jalur yang kamu temui akan lebih terjal dengan kemiringan yang semakin bertambah dan kamu akan disuguhkan hutan yang luar biasa, bebatuan dan terlihat lumut-lumut tidur lelap sesukanya bagai di film-film horor luar negeri, di jalur kita akan temukan satu batu yang view nya mirip gajah dilengkapi dengan belalainya dan tempat ini bisa jadi tempat istirahat para pendaki karena medannya agak landai dan cocok untuk ngopi sore sekaligus mungkin bisa menikmati replika gajah dari batu besar yang duduk manis di antara pepohonan lebat, dan kita sudah sampai yang para pendaki namakan “batu gajah”. Beranjak dari situ kita akan mendaki yang jalurnya mirip tangga yang tersusun dari batu dan medan nya cukup menanjak, jika kita tidak mempersiapkan fisik dengan baik disini akan sangat terasa menguras tenaga.

Lebatnya hutan Seulawah Agam dilihat dari Pinto Angen

Lebatnya hutan Seulawah Agam dilihat dari Pinto Angen

Dan akhirnya setelah melewati countur demi countur dengan medan tangga batu kita akan sampai di satu tempat seperti lembah,disana bisa kita jumpai penampung air yang di buat oleh pendaki-pendaki dulu, kita bisa mendirikan tenda disitu jika personil atau team pendakian nya beranggota banyak, ini kami namakan shelter sebelum puncak karena sedikit lagi kita mendaki akan kita temui satu puncakan yang lengkap dengan pilar P137 Seulawah Agam yang di renovasi oleh Pecinta Alam se-Aceh 17-08-1995, 50 tahun Indonesia merdeka.

Dari sedikit gambaran pendakian Seulawah yang aku ceritakan, “menurut aku” banyak hal yang bisa aku petik untuk mengenal diriku sendiri, contoh kecil yang bisa sedikit aku ulas “dari awal pendakian yang di temani alur beton hingga track yang melelahkan untuk kita lewati dan pemandangan pinto angen yang membuai dan akhirnya kita berdiri kokoh di puncak” aku merenungkan sambil duduk bersila di depan pilar Seulawah, sebenar nya itu persis sama dengan kehidupan yang di jalani manusia, Allah memberi kenikmatan dan menguji nya dengan sedikit cobaan dan kenikmatan haruskah kita menyerah,terbuai dan lupa pada tujuan hidup kita yang sebenarnya? Kita hanya sementara didalam perjalanan ini lakukanlah sungguh-sungguh apa yang menjadi kewajiban Insya Allah kita menjadi orang-orang yang menang dan berhasil. Aku sadar aku hanya hamba yang sedang melakukan perjalanan/pendakian mengarungi hidup.

Penulis “Chary Broe Dh’frog (Bukhari)

Ka.Div Mountaineering UKM-PA Jabal Everest

Iklan

Memperingati Hari Lingkungan Hidup

Peringatan hari lingkungan hidup sedunia (World Environment Day) yang rutin diselenggarakan tiap tanggal 5 Juni merupakan program untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya tindakan lingkungan yang positif bagi seluruh manusia di dunia. Hari lingkungan hidup sedunia ditetapkan sejak pembukaan konferensi lingkungan hidup sedunia di sidang umum PBB di Stockholm 5 – 16 Juni 1972. Hari lingkungan hidup sedunia memberikan ruang bagi seluruh penduduk bumi untuk menjadi bagian aksi global dalam mengkampanyekan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan serta gaya hidup yang ramah lingkungan.

Tahun 2014 ini hari lingkungan hidup sedunia tentu juga diperingati oleh seluruh negara – negara di dunia yang peduli akan keberlangsungan bumi dengan segala isinya. Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam atau Mapala Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur Sigli menetapkan tema untuk peringatan hari lingkungan hidup adalah “Beri Dunia Perubahan”.

IMG_6198

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Jabal Ghafur Gle Gapui-Sigli,  memperingati hari lingkungan hidup sedunia di areal kampus Unigha.  Kegiatan yang mengusung tema: “Beri Dunia Perubahan”, ini, diisi dengan: menanam seratusan pohon, dan gotong royong. Kegiatan ini  diselenggarakan selama 2 hari, yaitu dari 5-6 Juni 2014 yang di pusatkan di Dayah Darulsa’dah Lhok Keutapang Kecamatan Tangse Pidie. Tujuan kegiataan ini–selain untuk memperingati hari lingkungan hidup sedunia, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan  yang sehat dan asri.

Berikut ini adalah beberapa foto yang berhasil saya Himpun di lapangan, saat berlangsungnya acara peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang diselenggarakan oleh UKM Jabal Everest.

Pimpinan Dayah Darulsa'dah & Ketum UKM - PA - JE sedang melakukan penanaman

Pimpinan Dayah Darulsa’dah & Ketum UKM – PA – JE sedang melakukan penanaman

Para santri antuias menguntip sampah - sampah

Para santri antuias menguntip sampah – sampah

Santriwati juga ikut menaanam pohon

Santriwati juga ikut menaanam pohon

Cepat tumbuh yaa...

Cepat tumbuh yaa…

Ketum JE Ismunandar sedang sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan.

Ketum JE Ismunandar sedang sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan.

Ini kegiatan tambahan

Ini kegiatan tambahan

Kerja bersama masyarakat..

Kerja bersama masyarakat..

Akhir dari sebuah kegiatan.

Akhir dari sebuah kegiatan.

 

sampai jumpa…..

Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus)

Gajah merupakan salah satu jenis mamalia darat terbesar yang sekarang ini hanya tinggal dua spesies yaitu, Gajah Afrika (Loxodonta Aficana) dan Gajah Asia (Elephas Maximus). Gajah Afrika tempat hidupnya di Afrika. Gajah Asia tersebar di daerah India, Malaysia, Thailand, Srilanka, dan Indonesia

Nenek moyang gajah pertama kali di temukan sekitar 60 juta tahun yang lalu yaitu pada zaman Eosen. Keturunan gajah bernama Moeritherium. Moeritherium di temukan di Mesir dengan ciri – ciri bentuk moncong yang tidak berbatang dan pendek seperti moncong tapir.
Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus)

Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus)

Mammuthus phimigenius mempunyai ciri yang yang menonjol yaitu mempunyai bulu yang tebal, panjang dan kasar yang berfungsi melindungi tubuhnya dari cuaca dingin. Dari ciri tersebut dapat di tebak bahwa spesies tersebut hidup di daerah dingin di Serbia. Pada zaman itu manusia menggambarkan mammut di atas dinding – dinding gua.

Dalam sejarah juga di katakan bahwa spesies elephas maximus berasal darAsia Selatan dari Hilmaya menuju Indochina dan Semenjung Malaya, China Utara berakhir di pulau di Yang – tze, berlanjut di Srilanka dan berakhir di Pulau Sumatra.Gajah Sumatra termasuk anak Gajah Asia yang ciri serta sifatnya tidak berbeda dengan gajah Asia lainnya.

Gajah Sumatra memiliki nama ilmiah Elephas maximus sumatranus tenminck,termasuk dalam Phylum Chordata, Sub Phylum vetebrata, kelas mamalia, Ordo Proboscidae ,famili Elephantidae ,genus Elephas ,Spesies Elephas maximus Linnaeus ,dan Sub Spesies elephas maximus sumatranus tenminck.

Ukuran tubhu Gajah Asia dewasa adalah 250 – 300 cm, panjang ekor 120 – 150 cm dan berat mencapai 5000 kg. Gigi gajah berbentuk pipih seperti piringan dan mempunyai formula susun : gigi seri, taring, premolar dan molar berjumlah 26 buah.

Belalai berfungsi sebagai tangan, alat penciuman, alat bernafas, dan alat komunikasi. Belalai di lengkapi dengan otot sejumlah lebih kurang 40.000 buah sehingga sangat elatis. Indera penciuman gajah sangat baik dan merupakan sangat penting, sedangkan indera penglihatan sangat buruk.

Sistem reproduksi gajah jantan terdiri dari testes yang tetap berada di rongga perut ,penis berbentuk seperti gandul yang apa bila keluar dapat menyentuh tanah . Namun pada ummunya penis ditarik

ke dalam kantong kulit yang mengarah ke bawah menyerupai vulva gajah betina .Gajah sumatera mempunyai dua buah puting susu yang terletah di antara kaki depan.

Pada waktu tertentu gajah jantan dewasa mengalami peningkatan produksi testostero yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku yang di kenal dengan istilah musth.Musth ditandai dengan meningkatnya sekresi kelenjar temporal yang hanya terdapat pada gajah dan terletak dikulit pada ossa temporalis, ditandai dengan keluarannya cairan kekuningan dan kental dari kelenjar temporal yang hanya terdapat pada gajah dan terletak di kulit pada ossa temporalis, di tandai dengan keluarnya cairan kekuningan dan kental dari kelejar temporal,urinas semakin meningkat, adanya gerakan ritmik kepala dan leher dan hewan sangat sulit di atasi.

Gajah betina sudah dapat bunting di mulai pada usia 15 – 16 tahun. Masa kandungan gajah sangatlah lama, sekitar 21 – 22 bulan.Pada prinsipnya setiap satwa memerlukan tempat tinggal,berkembang biak dan mencari makan sebagai tempat kebutuhan hidup. Tempat – tempat yang berfungsi seperti ini membentuk suatu kesatuan yang disebut dengan habitat. Gajah hidup di daerah – daerah berhutan dan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada habitat asli gajah menyukai tempat tinggal berupa berhutan rapat dan daerah yang lebih terbuka dengan tumbuhan ruput atau semak. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, gajah selalu bergerak dalam suatu daerah jelajahnya.

Suatu populasi mempunyai kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang, tetapi dapat menyusut jumlahnya hingga punah. Keadaan tersebut sangat di tentukan oleh kemampuan genetik dan adanya interaksi dengan lingkungan. Komponen – komponen lingkungan yang menahan pertumbuhan populasi sangat komplek dan saling berkaitan satu sama lainnya. Jumlah individu suatu populasi megalami perubahan – perubahan dari waktu ke waktu dengan laju pertumbuhan tertentu.

 

Sumber : FFI Aceh 2008

Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau sumatra hanya di temukan di Pulau Sumatra, Indonesia.Populasi liar harimau sumatra di perkirakan sekitar 400 – 500 ekor.Pada awalnya di Indonesia terdapat tiga jenis harimau yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica) yang di perkirakan telah punah sekitar tahun 1972 dan harimau Bali (Panthera tigris baica), yang di perkirakan punah sekitar tahun 1937. Saat ini harimau sumatra merupakan satu – satunya jenis harimau yang terdapat di Indonesia.

Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau sumatra adalah jenis harimau dari delapan jenis yang ada di dunia. Harimau sumatra jantan memiliki panjang rata -rata 92 inci dari kepala ke yang buntut dengan berat 300 pound. Betinanya rata – rata memiliki panjang 78 inci dan berat 200 pound. Belang harimau sumatra lebih tipis dari pada sub spesies harimau lain. Sub spesies ini juga memiliki lebih banyak janggut serta surau di bandingkan sub spesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela – sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini di ketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bile binatang beruang tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

Harimau sumatra hanya di temukan di Pulau Sumatra. Jenis kucing besar ini mampu hidup dimanapun, dari hutan daratan rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi.

Harimau sumatra dapat berkembang biak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari ke sepuluh. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namum mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau sumatra dapat hidup selama 15 tahun di alam.

Harimau sumatra berfungsi untuk menjaga keseimbangan alam diantaranya dengan berfungsi untuk mengurangi hama babi yang mengganggu perkebunan masyarakat.Kereberadaan harimau sumatra terancam dari kehilangan habitat (tempat tinggal) dari penebangan dan pembukaan lahan serta pemburuan.

Bambu (Trieng)

Bambu adalah tanaman jenis rumput – rumputan yang memiliki pori – pori dan bentuk tabung berongga yang beruas – ruas. Tanaman bambu hidup merumpun. Di wilayah pedesaan seperti kita lihat di Jawa atau Sumatra, bambu kadangkala berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa dengan desa lainnya atau wilayah suatu inti komunitas desa dengan wilayah persawahan dan perkebunan.

Suasana di pedesaan yang eksotis, kadang – kadang juga di pengaruhi oleh rimbunan bambu serta suara yang khas yang tercipta dari pergesekan antar bambu. Bunyi bambu – bambu itu seperti lengkingan berirama, tapi tidak terdengar begitu nyaring. Kata trieng yang dalam bahasa Aceh yang berarti bambu.

Bambu (Trieng)

Bambu (Trieng)

Penduduk desa sering menanam bambu di sekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam jenis bambu bercampur yang di tanam di perkarangan rumah mereka. Bambu dapat di manfaatkan mulai dari ujung, termasuk daun dan cabang, hingga akar dari tumbuhan bambu. Fungsinya bermacam – macam pula, mulai dari sebagai bahan material bangunan, obat – obatan, perabot dapur dan rumah tangga, pengusir hama sawah, kentongan siskambling atau penabuh beduk di musala (tatok trieng), seni kerajinan tangan, penyaring bahan berbahaya / racun dalam tanah, penyerap karbon, hingga sebagai alat mainan tradisional anak – anak pada perayaan atau musim tertentu. Di Aceh, misalnya mainan beude trieng (meriam bambu) yang di mainkan saat perayaan malam lebaran.

Tanaman bambu sering tumbuh di dataran rendah sampai dengan pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 mdpl. Bambu tumbuh di tempat- tempat terbuka dan daerah bebas genangan air.

Kolo bambu terdiri atas sekitar 50% parenkin, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes) (Dransfield Widjaja : 1995). Parekin dan sel penghubung lebih banyak di temukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Kesemua merupakan jaringan utama pada susunan anatomi bambu.

Susunan anatomi itu yang membedakan bambu dan kayu. Serabut berfungsi memberikan kekuatan pada bambu, sedangkan pembuluh merupakan media pergerakan air yang memberikan bobot dalam batang bambu.

 Bambu termasuk tanaman Bamboidae anggota sub familiar rumpu. Bambu memiliki keanekaragaman di dunia sekitar 1250 – 1500 jenis, sedangkan Indonesia memiliki hanya 10% sekitar 154 jenis bambu (Wijaya et al, 2004). Namun pada umumnya masyarakat nusantara sering menanam dan memanfaatkan jenis bambu tali, bambu petung, bambu andong dan bambu hitam.

Bambu termasuk suku rumput – rumputan (graminae). Batangnya berbentuk pipa yang beruas – ruas, di dalam tiap ruas tersebut terdapat ruang udara hampa. Ruas – ruas tersebut di batasi oleh sekat – sekat yang disebut juga dinding antar. Batang – batang ruas terbentuk oleh serat – serat yang lurus dan memanjang, bagian luar dan bagian dalam batang di tutupi oleh kulit keras (cuticula).

Bambu sebagai peganti kayu

Bambu adalah alternatif kayu sebagai komponen konstruksi bagunan rumah dan jembatan. Membuat rumah dengan bambu lazin di temui di pedesaan. Selain itu rumah – rumah tradisional di Indonesia, seperti dalam Rumoh Aceh sebenarnya juga memanfaatkan unsur bambu sebagai komponen alternatif atau pelengkap dalam konstruksi bangunan. Misalnya yang terlihat pada bagian dinding ruangan, bagian alas lantai rumah, rangkang atau panteu tempat duduk yang menyerupai meja, bahan baku reng (gasen), beuleubah (tempat menyemat atap) dan lain – lain.

Alasan paling sederhana mengapa masyarakat pedesaan menggunakan bambu sebagai bahan material konstruksi bangunan rumahnya karena faktor ketersedian bambu di lingkungan mereka, harga bambu yang relatif murah dan faktor – faktor lainnya seperti kemanpuan meredam panas pada bangunan dari bambu.

Bambu sebagai bahan alami yang memiliki pori – pori dan berbentuk tabung dengan rongga di dalamnya, memiliki kemanpuan meredam panas. Udara panas masuk melalui pori – pori bambu dan menyimpan hawa panas di dalam tabung rongga – rongga bambu. Di siang hari saat bangunan di siram panas, bambu ini melepaskan udara dingin yang di simpan sejak semalam, sedangkan pada saat malam hari dimana udara luar menjadi dingin, bambu melepaskan panas yang di simpan sejak siang hari.

Di daerah -daerah terpencil kadang kala bambu di manfaatkan sebagai konstruksi jembatan. Dalam hal konstruksi bangunan mamfaat lainnya dari bambu adalah sebagai salah satu konstruksi tahan gempa.

Konstruksi bambu menimalisir dampak gempa dan angin badai. Bagaiman konstruksi bangunan dari bambu dapat menahan gempa?. Hal ini karena sifat yang dimiliki bambu yang lentur atau tidak kaku.Kelenturan bambu akan mempertahan konstruksi bangunan ketika gempa datang. Konstruksi bambu akan bergerak mengikuti arah getaran gempa. Bobotnya yang ringan akan mempertahankan berat keseluruhan struktur bangunan sehingga dapat mengurangi kerusakan total bangunan.

Bangunan dari bambu kadangkala juga di kenal tahan terhadap tiupan angin. Perilaku bambu yang mengikuti arah angin dan akar sebagai pondasinya yang kuat dapat mempertahankan bangunan struktur. Tinnggal bagaimana memberi sentuhan fondasi yang aman bagi strukutur bangunan. Dengan cara memberi landasan bagi beton atau batu bata. Namun yang harus di ingat adalah bagaiman di sebutkan Eko Prawoto, salah seorang arsitek yang mengembangkan konstruksi bambu di Indonesia, bagian bawah struktur bambu tidak boleh bersentuhan langsung dengan tanah untuk menghindari pelapukan.

Bambu memang memiliki kelebihan tersendiri dalam pekerjaan konstruksi bangunan. Tetapi tidak juga sedikit kekurangan dari pemanfaatan bambu sebagai alternatif peganti kayu atau semen. Biasa karena sifat bambu yang renta terhadap pelapukan dan serangan mikro organisme tertentu. Walaupun begitu, teknik – teknik pengawetan bambu terus di kembangkan oleh banyak pihak yang tertarik memamfaatkan bambu.

Bambu dan Usaha Konservasi

Bambu ternyata dapat di gunakan sebagai salah satu usahakonservasi lingkungan. Selain sebagai penyerap karbondioksida, yang merupakan salah satu unsur penyebab pemanasan global, bambu juga adalah pelindung sumber – sumber tangkapan air bagi kehidupan kita.

Konsevasi daerah aliran sungai (DAS) dapat menggunakan tanaman bambu sebagai pilihan usaha reboisasi. Sifatnya yang berkelompok dapat mencegah timbulnya erosi tanah yang berlebihan di sepanjang aliran sungai. Selain itu fungsi anatomi bambu yang baik merupakan sistem pengatur dan sistem yang dapat mempengaruhi retensi air dalam lapisan topsoil (tanah permukaan) yang mampu meningkatkan aliran air bawah tanah sangat nyata.

Hasil studi Akademi Beijing dan Xu Xiaoging, yang melakukan inventarisasi dan perencaan hutan dengan melakukan studi banding hutan pinus dan bambu pada DAS ternyata bambu menambah 240% air bawah tanah lebih besar di bandingkan hutan pinus. (Bareis,1998, dalam Garland 2004 dan repro Lieke Tan)

Selain itu, hasil studi lain yang di kembangkan oleh Utthan Centre dalam upaya konservasi pada lahan bekas penambang batu di India. Memperlihatkan bahwa terjadi telah kenaikan permukaan air bawah tanah 6,3 meter sejak bambu di tanam 4 tahun lamanya di areal hutan bambu seluas 106 ha. Hasilnya seluruh areal penanaman menghijau serta memberi pekerjaan kepada sekitar 80% penduduk setempat dan menambah pendapatan masyarakat melalui industri kerajian Bamboo. (Tewari , 1980 dalam Garland 2004 dan repro Lieke Tan).

Sebagai penyerap karbon, bambu ternyata adalah media cukup efektif pula. Emviromental Bambo Foundation (EBF) dalam wabsite resminya menyebutkan bahwa bambu dapat melepaskan lebih 35% oksigen.Beberapa jenis bambu malahan bisa menyerap hingga 12 ton karbon dioksida dari udara per hektarnya. Usaha mencegah pemanasan global tentu dapat memanfaakan tanaman bambu.

Bicara tentang ketangguhan, bambu adalah salah satu jenis tanaman yang sangat survive (berdaya tahan). Ini di buktikan pada saat bom Hiroshima menguncang Jepang di tahun 1945. Waktu itu bambu adalah salahsatu jenis makhluk yang hidup dan bertahan di saat yang lain mati.

Manfaat bambu cukup banyak, mulai dari ujung atas sampai akar – akarnya. Maka mengapa masih takut mengembangkannya. Dengan menanam semakin banyak bambu, sebenarnya kita sedang berusaha memperbaiki ekonomi kita secara sampingan sekaligus menyelamatkan hutan tropis terutama di Aceh sebagai kekayaan dunia. Tentu dengan memulai mengganti bambu dengan kayu.

Penulis : Almahdi

Sumber : FFI Aceh

Beruang Madu

Dalam keluarga beruang,terdapap 8 jenis beruang di dunia yang hidupnya menyebar. Mereka di kenal sebagai Beruang kutub, beruang coklat, beruang hitam amerika,beruang andes, beruang panda, beruang sloth, beuang hitam asia dan beruang madu.

Beruang madu dalam istilah ilmu pengetahuan dikenal dengan nama Herarctos malayanus, yang berarti beruang matahari dari Malaya, dalam bahasa Inggris disbut Sun Bear, beruang madu adalah jenis beruang terkecil dari jenis beruang lainnya. Berat badannya berkisar antara 30 – 60 kg dengan panjang badan yang berkisar antara 100 – 120 cm. Walaupun ia yang terkecil, beruang madu memiliki lidah dan kuku depan yang terpanjang. Selain itu setiap ekor beruang madu dapat dikenali dari tanda di dadanya yang mempunyai bentuk, corak, dan warna yang khas.

Beruang Madu (Helarctos Malayanus)

Beruang Madu (Helarctos Malayanus)

Lidah dan kuku panjang digunakan untuk mencari makanan, sebab beruang madu sangat suka memakan berbagai jenis serangga seperti rayap dan ulat kumbang yang hidup dalam kayu lapuk. Ia juga sangat suka sekali makan madu. Dengan taring dan kukunya, ia dapat dengan mudah membongkar kayu untuk mencari sarang lebah atau kelulut yang tersembunyi di dalam batang pohon.

Selain itu, beruang madu sangat suka makan buah – buahan, bila pada musimnya, mereka paling suka makan buah durian, cempedak dan beragam buah lainnya. Bahkan kadang – kadang ia makan beberapa jenis bunga. Jadi walau beruang madu tergolong  dalam keluarga karnivora (pemakan daging) sebetulnya ia adalah satwa omnivora (seperti manusia).

Beruang madu hanya terdapat di Asia Tenggara. Mereka hanya ada di hutan hujan tropis di bagian timur India, Banglades, Burma, Laos, Thailan, Kamboja, Vietnam, Malaysia, di Pulau Sumatera dan Borneo  (termasuk Kalimantan, Brunei, Sabah dan Serawak).

Beberapa catatan terdahulu menunjukan bahwa beruang madu pernah ada ditemukan di Tibet bagian timur, Cina Selatan dan Pulau Jawa. Namun telah punah akibat hutan di daerah tersebut telah punah akibat hutan di daerah tersebut telah rusak dan adanya pemburuan beruang  oleh manusia.

Di habitat alaminya, beruang madu memiliki wilayah jelajah yang cukup luas. Dari penelitian yang pernah dilakukan, luas hutan yang dibutuhkan oleh beruang madu, diketahui untuk satu ekor betina sekitar 500 Ha, dan luas untuk satu ekor jantan sedikitnya 1.500 Ha. Luasnya wilayah jelajah yang dibutuhkan sangat tergantung dari ketersediaan sumber makanan.

Beruang madu hidupnya diurnal, yang berarti aktif pada siang hari, tetapi sering juga tidur sejenak pada siang hari. Belum banyak yang diketahui bagaimana pola sosial beruang madu. Data yang ada menunjukan bahwa mereka merupakan satwa yang hidup menyendiri, sama halnya dengan jenis beruang lain.
Kelompok beruang madu yang sering ditemukan di hutan hanya induk dengan anaknya (satu anak yang dilahirkan setiap 2 atau 3 tahun). Terkadang pada saat musim buah yang besar dapat saja mereka terlihat dalam kumpulan.

Beruang madu sangat berperan dalam meregenerasi hutan sebagai penyebar biji buah – buahan dan terkenal sebagai pemanjat pohon yang ulung. Sifatnya pemalu, hidup soliter/penyendiri, aktif di siang hari dengan kebutuhan wilayah jelajah yang luas. Beruang madu adalah satwa yang dilindungi, statusnya terancam punah dan hanya ditemukan hidup di hutan hujan tropis Asia Tenggara. UU Pemerintah Indonesia No.5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (BKSDA) dan Ekosistemnya, telah melindungi beruang madu di Indonesia.

Beruang Madua atau Sun Bear adalah beruang terkecil di dunia, tingginya sekitar 4 kaki (1,2 meter). Mereka tinggal di daerah hutan hujan tropis di Asia Tenggara. Beruang madu merupakan hewan omnivora yang memakan berbagai jenis tanaman dan hewan. Saat ini beruang madu terancam punah karena berkurangnya habitat mereka akibat pemburuan liar, baik untuk diambil dagingnya atau kepentingan medis.

 

Sumber : FFI Aceh, Kumpulan Informasi Menarik Tetang Beruang Terkecil di Dunia.

Kukang (Bue Angen)

“Si ekor pendek yang berjalan dan memanjat perlahan”

Kukang atau dalam bahasa Aceh disebut Bue angen memiliki panjang kepala hingga tubuh 199 – 275 mm dengan ekor sepanjang 13 – 25 mm dan panjang kaki belakang 48 – 63 mm dan berat badan 220 – 610 gr. Warna umumnya bervariasi dari coklat abu – abu hingga coklat kemerahan, dengan garis coklat dari bagian atas kepala hingga bagian tengah punggung atau pangkal ekor. Jenis ini memiliki lingkaran seperti cincin berwarna gelap yang mengelilingi mata serta hidung berwarna putih. Mata memancarkan cahaya kemerahan pada malam hari. Bulu halus dan lebat.

Kukang (Nycticebus Coucang / Slow loris)

Kukang (Nycticebus Coucang / Slow loris)

Jenis ini dapat di jumpai di beberapa negara di antaranya Bangladesh, Brunei Darusallam, Burma, Camboja, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia jenis ini terdapat di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Kukang adalah jenis hewan nocturnal dan biasanya arboreal pada pohon yang berukuran kecil dan sedang. Jenis ini adalah pemakan buah – buahan tapi kadang – kadang makan serangga, daun dan telur burung. Kukang biasanya minum dengan cara membengkokan sumber air dan menjilatnya. Jenis ini tidur dengan posisi duduk atau berbaring atau miring. Kukang akan merenggangkan tubuhnya ketika cuaca sedang panas. Pada siang hari biasanya kukang beristirahat pada lubang pohon atau pada pucuk rumpun bambu.

Kukang bergerak sangat lambat dan berpindah dari pohon ke pohon di antara cabang. Jenis ini dapat bergantungan dengan satu atau kedua kaki dalam waktu yang cukup lama.Kukang biasanya hidup di hutan primer maupun hutan sekunder serta perkebunan. Kebanyakan jenis ini hidup soliter.

Kukang jantan memiliki wilayah sebaran yang overlap dengan betina dan sangat teritorial sehingga tidak akan membiarkan jantan lain memasuki wilayahnya. Bayi kukang biasanya bergantung pada vetrum betina, bahkan pada saat betina sedang bergerak. Bayi kukang mulai aktif bergerak pada usia 6 – 8 minggu dan sesudah minggu ke 16, bayi kukang lebih mandiri meskipun masih berhubungan dengan ibunya.

Kukang biasanya memiliki satu anak, tapi kadang – kadang kembar. Kukang betina memasuki periode pubertas pada usia 18 – 24 bulan, sementara periode pubertas jantan lebih cepat dari betina

Referensi :

Ehrlich, A. and Macbride, L. 1989. Mother – infant interactions in captive slow lorises (Nycticebus caucang). American Journal Of Primatology. Vol. 19,217 – 228

FFI Aceh

Kantong Semar

Kantong semar adalah nama tumbuhan yang masuk genus Nepenthes (Inggris: tropical pitcher plant). Ia termasuk dalam famili monotipik. Beberapa spesies Nepenthes termasuk yang hibrida atau buatan. Nepenthes merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis yang meliputi Indonesia , China selatan, Indochina, Malaysia, Filipina, Madagaskar bagian barat, Seychelles, Kaledonia Baru, India, Sri Lanka, dan  Australia. Di Indonesia setidaknya terdapat 85 spesies kantong semar. Habitat dengan spesies terbanyak di Kalimantan dan Sumatra.

Tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan memanjat tanaman lain. Namun, ada beberapa spesies yang tidak memanjat. Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsa. Misalnya, serangga, pacet, anak kodok. Mereka terjebak dalam kantong karena tertarik dengan bau harumnya.

Salah satu jenis kantong semar.photo di ambil saat XPDC Gunung Leuhob..

Salah satu jenis kantong semar.photo di ambil saat XPDC Gunung Leuhob..

Umumnya, Nepenthes punya tiga macam kantong, yaitu kantong atas, kantong bawah, dan kantong rosette. Kantong atas adalah kantong dari tanaman dewasa, biasanya berbentuk corong atau silinder. Kantong atas lebih sering menangkap hewan yang terbang seperti nyamuk atau lalat, kantong jenis ini jarang bahkan tidak ditemui pada beberapa spesies, contohnya N. ampullaria.

Kantong bawah adalah kantong yang dihasilkan pada bagian tanaman muda yang biasanya tergeletak di atas tanah, memiliki dua sayap yang berfungsi sebagai alat bantu bagi serangga tanah seperti semut untuk memanjat mulut kantong.

 Kantong rosette, mirip kantong bawah, tetapi kantong ini tumbuh pada bagian daun berbentuk rosette, misalnya,  N. ampullaria dan N. gracilis. Beberapa tanaman terkadang mengeluarkan kantong tengah yang berbentuk seperti campuran kantong bawah dan kantong atas.

Sewaktu daun masih muda, kantong pemangsa pada kantong semar tertutup. Kantong membuka saat dewasa. Saat memakan mangsanya, kantong ini menutup, supaya proses pencernaan tidak terganggu.

Penyebaran kantong semar sangat luas, dari pantai sampai dataran tinggi. Maka,  kantong semar dibagi dalam dua jenis, yaitu jenis dataran tinggi dan jenis dataran rendah. Namun, kebanyakan spesies tumbuh di dataran tinggi. Spesies yang tercatat tumbuh di ketinggian paling tinggi adalah N. lamii yaitu di ketinggian 3.520 m.
Kebanyakan spesies hidup di lingkungan berkelembapan tinggi dan cahaya dengan tingkat menengah hingga tinggi. Spesies seperti N. ampullaria tumbuh di tempat teduh. Sebaliknya,  N. mirabilis tumbuh dengan cahaya berlimpah. Tanah tempat tumbuh Nepenthes biasanya miskin hara dan asam. Beberapa spesies tumbuh di tempat yang sangat beracun bagi tanaman lain seperti N. rajah yang tumbuh di tanah dengan kandungan logam berat. N. albomarginata tumbuh pada pantai berpasir di zona yang terkena siraman air laut. N. inermis tumbuh tanpa bersentuhan dengan tanah.
Kantong semar bagi para pendaki gunung, tidak asing. Tumbuhan yang kantongnya masih tertutup menjadi sumber air segar bagi para penikmat alam liar ini. Namun, jangan coba-coba minum air dari kantong yang sudah terbuka, rasa asam dan bangkai serangga sudah mengotori air dalam kantong.
Dari berbagai sumber

Sehari di Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin

Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin terletak di pinggiran jalan negara Banda Aceh – Medan,berdiri masih kokoh meskipun  sudah berusia 60 tahun.Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin yang dikalangan masyarakat luas dikenal dengan sebutan Mesjid Abu Beureu’eh. Abu Beureu’eh yang bernama lengkap Teungku H.Muhammad Daud  Beureu’eh adalah sosok yang memparkasai berdirinya mesjid tersebut.Mesjid yang di bangun pada tahun 1950. Abu Beureu’eh adalah seorang ulama pemimpin umat yang disegani dan dihormati oleh semua kalangan.Mesjid seluas 1.350 meter persegi dibangun Abu Beureu’eh dengan bantuan masyarakat,tahap pembanguna pondasi,penimbunan,pengadaan kerikil,batu,air dan sebagainya dikerjakan oleh masyarakat kecamatan Mutiara / Beureunun tanpa pamri.Untuk biaya membeli material dikumpulkan beras segenggam dari masyarakat baik yang tinggal di Aceh maupun yang tinggal di luar Aceh. Pembangun mesjid diatas tanah seluas 10.200 meter persegi inipun sempat tertunda karena terjadinya perang di Aceh.Baru pada tahun 1963 pembangunannya dilanjutkan kembali setelah Abu Beureu’eh turun dari gunung dan kembali ke pangkuan NKRI.

Mesjid Baitul A'la lil Mujahidin

Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin atau di sebut juga Mesjid Abu Beureueh

Semasa Abu Beureu’eh masih hidup banyak masyarakat yang melintas baik dari arah timur maupun barat berupaya menjadwalkan shalat Jumat dimesjid yang dihiasi relif berukir hiasan flora ini.Sosok Abu Beureu’eh sebagai salah seorang tokoh panutan masyarakat Aceh.

Muhammad seorang warga Yaman yang saya jumpai seusai shalat Zuhur pada saat itu menyebutkan,hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang melalukan perjalanan singgah di mesjid ini untuk menunaikan shalat.

Dibagian belakang mesjid terdapat makam Abu Beureu’eh yang wafat pada hari Rabu 10 Juni 1987,makamnya berukuran 5×7 meter yang dipagari dengan terali besi,terdapat juga 2 pohon jarak dan batu nisan yang bertulis Tgk.Syi Di Beureu’eh (Tgk.Muhammad Dawud Beureu’eh) Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 Desember 1899),Wafat Rabu 14 Zulkaidah 1407 (10 Juni1987).

Menurut warga Yaman lain,sebagian orang yang singgah selain melaksanakan shalat juga melakukan ziarah ke makam Abu Beureu’eh. Namum sekarang seiring dengan perkembangan zaman’orang yang melakukan ziarah ke makam Abu Beureu’eh sudah mulai berkurang,tidak ramai seperti dulu lagi ujaranya.

Muhammad menyebutkan,meski mesjid ini tidak sanggup menanpung lagi para jamaah yang ramai khususnya pada saat shalat jumat dan acara yang diselenggarakan oleh pihak mesjid,perluasan mesjid ini tidak bisa dilakukan secara total karena mesjid ini telah ditetapakn sebagai cagar budaya,sebut Muhammad.Paling yang bisa dilakukan relif taman,pagar,sementara banguna dasarnya meski sudah usang  tetap tidak bisa diubah total.

Tepatnya pada tanggal 10 Agustus 2004 Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin telah ditetapkan sebagai cagar budaya/situs yang dilindungi Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya melalui Keputusan Menteri Nomor KM.51/OT.007/MKP/2004.

Disisi lain Baihaki seorang jamaah yang dijumpai usai shalat Zuhur menyebutkan,dalam setahun terakhir Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin mulai semarak dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.Tiap malam jumat mesjid ini ramai karena ada zikir bersama yang dipimpin khatib mesjid Waled Abu Bakar,ujarnya.

Selain zikir bersama pada bulan Ramadhan panitia mesjid juga menyediakan menu buka puasa bagi orang -orang yang melakukan perjalanan (safir).

 

By : Almahdi

Kedih (Reungkah)

Kedih (Reungkah ) adalah sejenis monyet atau lutung berekor panjang yang sebagian hidup terrestrial (diatas tanah) dan memiliki panjang badan antara 420 – 610 mm, ekor berukuran 500 – 850 mm dan berat antara 5.0 – 8.1 kg.Tubuh bagian atas berwarna abu – abu atau kehitaman dan bagian berwarna putih,ada jambul yang jelas diatas kepala dan bercak putih didahi.Pipi berwarna gelap,tangan dan kaki hitam.Jenis kedih terdapat di Sumatera bagian utara termasuk Aceh.

Reungkah atau Kedih

Reungkah atau Kedih

Kedih betina dapat melahirkan sepanjang tahun.Jenis primata yang hidup berkelompok antara 3 – 21 ekor, sebagian kelompok hanya terdapat satu jantan sehingga diasumsikan kedih hidup secara poligamus

Makanan utama kedih adalah buah – buahan, serangga, bunga cabang bahkan kadang – kadang tanah. Jenis daun yang sering dikonsumsi kedih diantaranya Gnetum latifollum, Paranephelium nitidum, Quercus sp, sedangkan tumbuhan buah diantaranya Dysoxylum spp, Cnestis platantha, dan Scorodocarpus borneensis.
Konsumsi air biasanya doperoleh dari makanan, tapi terkadang primata ini terkadang minum dari lobang pohon atau sungai – sungai yang kecil.Jumlah individual dalam satu kelompok kedih bervariasi antara 3 – 21 ekor. Kegiatan rutin kedih pada siang hari adalah beristirahat sesudah makan. Kedih biasanya di jumpai pada cabang tengah pohon bahkan di tanah. Tempat tidur pada malam hari baiasanya pada pohon yang tinggi mendekati pucuk, sementara tempat tidur pada siang hari umumnya diantara cabang pohon yang rimbun.Predator utama jenis ini adalah macan kumbang (Neofelis nebulosa), Harimau (Panthera tigris), dan ular piton (Python reticulatus).Presbytis thomasi hanya di jumpai di bagian utara Pulau Sumatera termasuk Aceh. Kedih adalah jenis primata yang sangat menarik dan pintar. Jenis ini sangat bermanfaat dalam membantu  regenerasi tumbuhan hutan terutama dalam menyebarkan biji buah hutan.

Sumber : FFI Aceh