Bambu (Trieng)

Bambu adalah tanaman jenis rumput – rumputan yang memiliki pori – pori dan bentuk tabung berongga yang beruas – ruas. Tanaman bambu hidup merumpun. Di wilayah pedesaan seperti kita lihat di Jawa atau Sumatra, bambu kadangkala berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa dengan desa lainnya atau wilayah suatu inti komunitas desa dengan wilayah persawahan dan perkebunan.

Suasana di pedesaan yang eksotis, kadang – kadang juga di pengaruhi oleh rimbunan bambu serta suara yang khas yang tercipta dari pergesekan antar bambu. Bunyi bambu – bambu itu seperti lengkingan berirama, tapi tidak terdengar begitu nyaring. Kata trieng yang dalam bahasa Aceh yang berarti bambu.

Bambu (Trieng)

Bambu (Trieng)

Penduduk desa sering menanam bambu di sekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam jenis bambu bercampur yang di tanam di perkarangan rumah mereka. Bambu dapat di manfaatkan mulai dari ujung, termasuk daun dan cabang, hingga akar dari tumbuhan bambu. Fungsinya bermacam – macam pula, mulai dari sebagai bahan material bangunan, obat – obatan, perabot dapur dan rumah tangga, pengusir hama sawah, kentongan siskambling atau penabuh beduk di musala (tatok trieng), seni kerajinan tangan, penyaring bahan berbahaya / racun dalam tanah, penyerap karbon, hingga sebagai alat mainan tradisional anak – anak pada perayaan atau musim tertentu. Di Aceh, misalnya mainan beude trieng (meriam bambu) yang di mainkan saat perayaan malam lebaran.

Tanaman bambu sering tumbuh di dataran rendah sampai dengan pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 mdpl. Bambu tumbuh di tempat- tempat terbuka dan daerah bebas genangan air.

Kolo bambu terdiri atas sekitar 50% parenkin, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes) (Dransfield Widjaja : 1995). Parekin dan sel penghubung lebih banyak di temukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Kesemua merupakan jaringan utama pada susunan anatomi bambu.

Susunan anatomi itu yang membedakan bambu dan kayu. Serabut berfungsi memberikan kekuatan pada bambu, sedangkan pembuluh merupakan media pergerakan air yang memberikan bobot dalam batang bambu.

 Bambu termasuk tanaman Bamboidae anggota sub familiar rumpu. Bambu memiliki keanekaragaman di dunia sekitar 1250 – 1500 jenis, sedangkan Indonesia memiliki hanya 10% sekitar 154 jenis bambu (Wijaya et al, 2004). Namun pada umumnya masyarakat nusantara sering menanam dan memanfaatkan jenis bambu tali, bambu petung, bambu andong dan bambu hitam.

Bambu termasuk suku rumput – rumputan (graminae). Batangnya berbentuk pipa yang beruas – ruas, di dalam tiap ruas tersebut terdapat ruang udara hampa. Ruas – ruas tersebut di batasi oleh sekat – sekat yang disebut juga dinding antar. Batang – batang ruas terbentuk oleh serat – serat yang lurus dan memanjang, bagian luar dan bagian dalam batang di tutupi oleh kulit keras (cuticula).

Bambu sebagai peganti kayu

Bambu adalah alternatif kayu sebagai komponen konstruksi bagunan rumah dan jembatan. Membuat rumah dengan bambu lazin di temui di pedesaan. Selain itu rumah – rumah tradisional di Indonesia, seperti dalam Rumoh Aceh sebenarnya juga memanfaatkan unsur bambu sebagai komponen alternatif atau pelengkap dalam konstruksi bangunan. Misalnya yang terlihat pada bagian dinding ruangan, bagian alas lantai rumah, rangkang atau panteu tempat duduk yang menyerupai meja, bahan baku reng (gasen), beuleubah (tempat menyemat atap) dan lain – lain.

Alasan paling sederhana mengapa masyarakat pedesaan menggunakan bambu sebagai bahan material konstruksi bangunan rumahnya karena faktor ketersedian bambu di lingkungan mereka, harga bambu yang relatif murah dan faktor – faktor lainnya seperti kemanpuan meredam panas pada bangunan dari bambu.

Bambu sebagai bahan alami yang memiliki pori – pori dan berbentuk tabung dengan rongga di dalamnya, memiliki kemanpuan meredam panas. Udara panas masuk melalui pori – pori bambu dan menyimpan hawa panas di dalam tabung rongga – rongga bambu. Di siang hari saat bangunan di siram panas, bambu ini melepaskan udara dingin yang di simpan sejak semalam, sedangkan pada saat malam hari dimana udara luar menjadi dingin, bambu melepaskan panas yang di simpan sejak siang hari.

Di daerah -daerah terpencil kadang kala bambu di manfaatkan sebagai konstruksi jembatan. Dalam hal konstruksi bangunan mamfaat lainnya dari bambu adalah sebagai salah satu konstruksi tahan gempa.

Konstruksi bambu menimalisir dampak gempa dan angin badai. Bagaiman konstruksi bangunan dari bambu dapat menahan gempa?. Hal ini karena sifat yang dimiliki bambu yang lentur atau tidak kaku.Kelenturan bambu akan mempertahan konstruksi bangunan ketika gempa datang. Konstruksi bambu akan bergerak mengikuti arah getaran gempa. Bobotnya yang ringan akan mempertahankan berat keseluruhan struktur bangunan sehingga dapat mengurangi kerusakan total bangunan.

Bangunan dari bambu kadangkala juga di kenal tahan terhadap tiupan angin. Perilaku bambu yang mengikuti arah angin dan akar sebagai pondasinya yang kuat dapat mempertahankan bangunan struktur. Tinnggal bagaimana memberi sentuhan fondasi yang aman bagi strukutur bangunan. Dengan cara memberi landasan bagi beton atau batu bata. Namun yang harus di ingat adalah bagaiman di sebutkan Eko Prawoto, salah seorang arsitek yang mengembangkan konstruksi bambu di Indonesia, bagian bawah struktur bambu tidak boleh bersentuhan langsung dengan tanah untuk menghindari pelapukan.

Bambu memang memiliki kelebihan tersendiri dalam pekerjaan konstruksi bangunan. Tetapi tidak juga sedikit kekurangan dari pemanfaatan bambu sebagai alternatif peganti kayu atau semen. Biasa karena sifat bambu yang renta terhadap pelapukan dan serangan mikro organisme tertentu. Walaupun begitu, teknik – teknik pengawetan bambu terus di kembangkan oleh banyak pihak yang tertarik memamfaatkan bambu.

Bambu dan Usaha Konservasi

Bambu ternyata dapat di gunakan sebagai salah satu usahakonservasi lingkungan. Selain sebagai penyerap karbondioksida, yang merupakan salah satu unsur penyebab pemanasan global, bambu juga adalah pelindung sumber – sumber tangkapan air bagi kehidupan kita.

Konsevasi daerah aliran sungai (DAS) dapat menggunakan tanaman bambu sebagai pilihan usaha reboisasi. Sifatnya yang berkelompok dapat mencegah timbulnya erosi tanah yang berlebihan di sepanjang aliran sungai. Selain itu fungsi anatomi bambu yang baik merupakan sistem pengatur dan sistem yang dapat mempengaruhi retensi air dalam lapisan topsoil (tanah permukaan) yang mampu meningkatkan aliran air bawah tanah sangat nyata.

Hasil studi Akademi Beijing dan Xu Xiaoging, yang melakukan inventarisasi dan perencaan hutan dengan melakukan studi banding hutan pinus dan bambu pada DAS ternyata bambu menambah 240% air bawah tanah lebih besar di bandingkan hutan pinus. (Bareis,1998, dalam Garland 2004 dan repro Lieke Tan)

Selain itu, hasil studi lain yang di kembangkan oleh Utthan Centre dalam upaya konservasi pada lahan bekas penambang batu di India. Memperlihatkan bahwa terjadi telah kenaikan permukaan air bawah tanah 6,3 meter sejak bambu di tanam 4 tahun lamanya di areal hutan bambu seluas 106 ha. Hasilnya seluruh areal penanaman menghijau serta memberi pekerjaan kepada sekitar 80% penduduk setempat dan menambah pendapatan masyarakat melalui industri kerajian Bamboo. (Tewari , 1980 dalam Garland 2004 dan repro Lieke Tan).

Sebagai penyerap karbon, bambu ternyata adalah media cukup efektif pula. Emviromental Bambo Foundation (EBF) dalam wabsite resminya menyebutkan bahwa bambu dapat melepaskan lebih 35% oksigen.Beberapa jenis bambu malahan bisa menyerap hingga 12 ton karbon dioksida dari udara per hektarnya. Usaha mencegah pemanasan global tentu dapat memanfaakan tanaman bambu.

Bicara tentang ketangguhan, bambu adalah salah satu jenis tanaman yang sangat survive (berdaya tahan). Ini di buktikan pada saat bom Hiroshima menguncang Jepang di tahun 1945. Waktu itu bambu adalah salahsatu jenis makhluk yang hidup dan bertahan di saat yang lain mati.

Manfaat bambu cukup banyak, mulai dari ujung atas sampai akar – akarnya. Maka mengapa masih takut mengembangkannya. Dengan menanam semakin banyak bambu, sebenarnya kita sedang berusaha memperbaiki ekonomi kita secara sampingan sekaligus menyelamatkan hutan tropis terutama di Aceh sebagai kekayaan dunia. Tentu dengan memulai mengganti bambu dengan kayu.

Penulis : Almahdi

Sumber : FFI Aceh

Iklan

Posted on 30 Juli 2014, in Flora. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s