Kukang (Bue Angen)

“Si ekor pendek yang berjalan dan memanjat perlahan”

Kukang atau dalam bahasa Aceh disebut Bue angen memiliki panjang kepala hingga tubuh 199 – 275 mm dengan ekor sepanjang 13 – 25 mm dan panjang kaki belakang 48 – 63 mm dan berat badan 220 – 610 gr. Warna umumnya bervariasi dari coklat abu – abu hingga coklat kemerahan, dengan garis coklat dari bagian atas kepala hingga bagian tengah punggung atau pangkal ekor. Jenis ini memiliki lingkaran seperti cincin berwarna gelap yang mengelilingi mata serta hidung berwarna putih. Mata memancarkan cahaya kemerahan pada malam hari. Bulu halus dan lebat.

Kukang (Nycticebus Coucang / Slow loris)

Kukang (Nycticebus Coucang / Slow loris)

Jenis ini dapat di jumpai di beberapa negara di antaranya Bangladesh, Brunei Darusallam, Burma, Camboja, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia jenis ini terdapat di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Kukang adalah jenis hewan nocturnal dan biasanya arboreal pada pohon yang berukuran kecil dan sedang. Jenis ini adalah pemakan buah – buahan tapi kadang – kadang makan serangga, daun dan telur burung. Kukang biasanya minum dengan cara membengkokan sumber air dan menjilatnya. Jenis ini tidur dengan posisi duduk atau berbaring atau miring. Kukang akan merenggangkan tubuhnya ketika cuaca sedang panas. Pada siang hari biasanya kukang beristirahat pada lubang pohon atau pada pucuk rumpun bambu.

Kukang bergerak sangat lambat dan berpindah dari pohon ke pohon di antara cabang. Jenis ini dapat bergantungan dengan satu atau kedua kaki dalam waktu yang cukup lama.Kukang biasanya hidup di hutan primer maupun hutan sekunder serta perkebunan. Kebanyakan jenis ini hidup soliter.

Kukang jantan memiliki wilayah sebaran yang overlap dengan betina dan sangat teritorial sehingga tidak akan membiarkan jantan lain memasuki wilayahnya. Bayi kukang biasanya bergantung pada vetrum betina, bahkan pada saat betina sedang bergerak. Bayi kukang mulai aktif bergerak pada usia 6 – 8 minggu dan sesudah minggu ke 16, bayi kukang lebih mandiri meskipun masih berhubungan dengan ibunya.

Kukang biasanya memiliki satu anak, tapi kadang – kadang kembar. Kukang betina memasuki periode pubertas pada usia 18 – 24 bulan, sementara periode pubertas jantan lebih cepat dari betina

Referensi :

Ehrlich, A. and Macbride, L. 1989. Mother – infant interactions in captive slow lorises (Nycticebus caucang). American Journal Of Primatology. Vol. 19,217 – 228

FFI Aceh

Iklan

Posted on 29 Juli 2014, in Fauna. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s