Sehari di Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin

Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin terletak di pinggiran jalan negara Banda Aceh – Medan,berdiri masih kokoh meskipun  sudah berusia 60 tahun.Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin yang dikalangan masyarakat luas dikenal dengan sebutan Mesjid Abu Beureu’eh. Abu Beureu’eh yang bernama lengkap Teungku H.Muhammad Daud  Beureu’eh adalah sosok yang memparkasai berdirinya mesjid tersebut.Mesjid yang di bangun pada tahun 1950. Abu Beureu’eh adalah seorang ulama pemimpin umat yang disegani dan dihormati oleh semua kalangan.Mesjid seluas 1.350 meter persegi dibangun Abu Beureu’eh dengan bantuan masyarakat,tahap pembanguna pondasi,penimbunan,pengadaan kerikil,batu,air dan sebagainya dikerjakan oleh masyarakat kecamatan Mutiara / Beureunun tanpa pamri.Untuk biaya membeli material dikumpulkan beras segenggam dari masyarakat baik yang tinggal di Aceh maupun yang tinggal di luar Aceh. Pembangun mesjid diatas tanah seluas 10.200 meter persegi inipun sempat tertunda karena terjadinya perang di Aceh.Baru pada tahun 1963 pembangunannya dilanjutkan kembali setelah Abu Beureu’eh turun dari gunung dan kembali ke pangkuan NKRI.

Mesjid Baitul A'la lil Mujahidin

Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin atau di sebut juga Mesjid Abu Beureueh

Semasa Abu Beureu’eh masih hidup banyak masyarakat yang melintas baik dari arah timur maupun barat berupaya menjadwalkan shalat Jumat dimesjid yang dihiasi relif berukir hiasan flora ini.Sosok Abu Beureu’eh sebagai salah seorang tokoh panutan masyarakat Aceh.

Muhammad seorang warga Yaman yang saya jumpai seusai shalat Zuhur pada saat itu menyebutkan,hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang melalukan perjalanan singgah di mesjid ini untuk menunaikan shalat.

Dibagian belakang mesjid terdapat makam Abu Beureu’eh yang wafat pada hari Rabu 10 Juni 1987,makamnya berukuran 5×7 meter yang dipagari dengan terali besi,terdapat juga 2 pohon jarak dan batu nisan yang bertulis Tgk.Syi Di Beureu’eh (Tgk.Muhammad Dawud Beureu’eh) Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 Desember 1899),Wafat Rabu 14 Zulkaidah 1407 (10 Juni1987).

Menurut warga Yaman lain,sebagian orang yang singgah selain melaksanakan shalat juga melakukan ziarah ke makam Abu Beureu’eh. Namum sekarang seiring dengan perkembangan zaman’orang yang melakukan ziarah ke makam Abu Beureu’eh sudah mulai berkurang,tidak ramai seperti dulu lagi ujaranya.

Muhammad menyebutkan,meski mesjid ini tidak sanggup menanpung lagi para jamaah yang ramai khususnya pada saat shalat jumat dan acara yang diselenggarakan oleh pihak mesjid,perluasan mesjid ini tidak bisa dilakukan secara total karena mesjid ini telah ditetapakn sebagai cagar budaya,sebut Muhammad.Paling yang bisa dilakukan relif taman,pagar,sementara banguna dasarnya meski sudah usang  tetap tidak bisa diubah total.

Tepatnya pada tanggal 10 Agustus 2004 Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin telah ditetapkan sebagai cagar budaya/situs yang dilindungi Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya melalui Keputusan Menteri Nomor KM.51/OT.007/MKP/2004.

Disisi lain Baihaki seorang jamaah yang dijumpai usai shalat Zuhur menyebutkan,dalam setahun terakhir Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin mulai semarak dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.Tiap malam jumat mesjid ini ramai karena ada zikir bersama yang dipimpin khatib mesjid Waled Abu Bakar,ujarnya.

Selain zikir bersama pada bulan Ramadhan panitia mesjid juga menyediakan menu buka puasa bagi orang -orang yang melakukan perjalanan (safir).

 

By : Almahdi

Iklan

Posted on 27 Juli 2014, in Religi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s