Pendakian Gunung Leuhob

Gunung Leuhob adalah gunung yang terletak di kecamatan Tangse Kabupaten Pidie Indonesia. Gunung ini dikelilingi hutan yang sangat lebat dan merupakan habitat harimau sumatera dan Gajah Sumatera. Puncak Gunung Leuhob berada pada ketinggian 2.000 mdpl. Keindahan panorama yang natural dengan kekayaan flora dan fauna dapat di temui mulai dari dataran rendah hingga puncak gunung Leuhob, tidak hanya untuk dinikmati tetapi sangat baik untuk melakukan penelitian dan pendidikan. Pendakian ke puncak gunung Kerinci memakan waktu dua hari mulai dari Blang Pandak.

Perjalanan dengan sepeda motor sejauh 60 Km harus saya tempuh dengan motor jupiter kesayangan. Motor yang setia membawa saya menjelajah berbagai tempat. Sepanjang jalan terutama setelah memasuki kecamatan Tangse disis jalan pemandangan pegunungan bukit Barisan. Disusul kemudian dengan bantaran sungai dan hamparan sawah yang bertingkat. Tidak berhenti sampai disitu, mata kami dimanjakan kembali dengan panorama indahnya perkebunan – perkebunan pinus yang sangat luas berbukit-bukit.  Pemandangan itu menghinoptis saya dan sepeda motor saya. Maksudnya begini, mata dan hati memaksa kami menghentikan sepeda motor untuk sejenak memandang luasnya perkebunan pinus yang tampak begitu indah. Jadilah saya hentikan sepeda motor di tepi jalan. Menghirup udara sedalam-dalamnya yang sangat segar ketika memasuki rongga paru-paru.

Perjalanan Jupiter kesayanganku

Perjalanan dengan  Jupiter kesayanganku

Hari itu tanggal, 29 Desember 2011. Kami berangkat beranggotakan 5 orang mengendarai 3 buah motor. Saya perkenalkan anggota tim Expedisi Ekplorasi Gunung Leuhob Mapala Jabal Everest yaitu, Saya sendiri (Almahdi), Rahmad Afrizal, Saiful Wadhan,Diswan Saputra dan Rayzatul Akmal. Perjalanan panjang yang kami lalui hingga sampailah kami di tempat tujuan yaitu desa terakhir Blang Pandak. Sesampainya disana,  hari sudah malam..Malam itu kami memutuskan untuk menginap malam ini dirumah kepala desa dengan. Itu adalah tempat dimana kami menginap malam pertama

Di rumah kepala desa Blang Pandak

Di rumah kepala desa Blang Pandak

Pagi tiba, kami bangun dan udara dingin yang dahsyat segera menyerang tubuh. Wajar saja, Blang Pandak berada di kaki Gunung Halimon. Pagi itu kami hanya sarapan. Kemudian kami mempersiapkan segala keperluan.Hari ini kami langsung melakukan pendakian.

Siap berangkat ni broe..

Siap berangkat ni broe..

Kami semua berkumpul tepat depan rumah kepala desa mengabadikan foto, berdoa dan kemudian bergerak. Langkah kaki pertaman mulai menapaki jalur awal pendakian gunung Leuhob. Jalur masih datar rasa lelah belum terasa hingga tak lama kemudian kami sampai di sebuah sungai. Di sana kami tidak berhenti, berjalan terus sampai selter pertama. Selter ini terkenal dengan jalur perlintasan rusa. Disini kami istirahat sebentar sembari ngobrol. Enaknya mendaki gunung Leuhob karena belum pernah ada pendaki atau pencita alam yang melakukan pendakian di karenakan gunung tersebut agak jauh dari akses masyarakat dan terkenal juga gunung yang bermitos tinggi setelah Halimon itu ke gunung itu yang menjadi impian kami untuk coba mendakinya.

Nampak wajah - wajah mulai serius..

Nampak wajah – wajah mulai serius..

Cukup istirahat kami lanjutkan perjalanan. Ternyata jarak tempuh lumayan jauh dan medan sudah banyak menanjak. Sementara perut sudah mulai lapar karena ini sudah lewat dari jam makan siang. Kami berencana makan siang di tempat yang agak landai sekalian istirahat agak lama disana. Setelah sekian lama berjalan mendaki sampailah kami di sebuah alur yang kami beri nama selter kedua. Brrr….hujan mulai turun hawa dingin mulai terasa disini. Mantel segera saya kenakan untuk menghalau hujan ini. Sembari makan siang dengan lauk alakadarnya. Usai makan istirahat sambil menghisap sebatang rokok kami packing dan segera melanjutkan pendakian dana kamipun mulai membuka jalur.

Kegiatan sambil masak..jangan abaikan waktu

Kegiatan sambil masak..jangan sia – siakan waktu

Hawa dingin, sedikit kabut, tanjakan terjal dan licin kami lalui. Untuk sampai dimana kami bisa menentukan posisi kami di peta dan tibalah kami di sebuah tempat yang kami beri nama kubang dimana di tempat tersebut ada sebuah kubang yang lumayan luas. Sang navigator pun mencari koordinat. Agak lama kami di kubang tersebut dan mengumpulkan tenaga yang mulai terserap banyak.

Navigator lagi serius..

Navigator lagi serius..

Selanjutnya kami bergerak lagi menuju tempat berikutnya. Karena tenaga yang mulai terkuras kami kembali memutuskan istirahat lagi. Kali ini kami istirahat sembari memanaskan air untuk ngopi. Mengingat hawa dingin yang mulai terasa sejak kami berada di diantara pepohonan rotan. Kopi panas dan biskuit kami rasa cocok untuk melawan dingin dan rasa lapar.

Terlihat segelas kopi diantara kesibukan sang navigator..

Terlihat segelas kopi diantara kesibukan sang navigator..

Setelah itu kami lanjutkan lagi perjalanan dan senja mulai tiba. Segala perlengkapan yang kami bawa untuk melawan dingin pun kami kenakan antara lain, baju 2 lapis, Jacket, Sarung tangan, Celana 2 lapis, kupluk tebal, senter dll. Walau begitu hawa dingin tetap terasa. Memang saya sadari sepenuhnya, mendaki gunung itu beresiko tinggi dan sangat dekat dengan marabahaya. Itulah sebabnya setiap saya hendak mendaki gunung saya selalu niat baik da lam hati, berdoa minta perlindungan pada Allah dan berhati-hati. Sudah banyak pendaki yang menjadi korban di gunung.

Kembali ke topik, tujuan kami saat ini adalah mencari tempat bermalam. Dimana itu adalah menjadi selter ke tiga bagi kami. Tempat dimana pendaki mendirikan tenda terakhir dan persiapan untuk melanjutkan perjalanan besok Setibanya.kai di shelter 3 kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tapi ternyata sangat sulit mencari tempat mendirikan tenda karena disini banyak pepohonan yang besar dan akar – akar yang besar timbul keatas permukaan tanah. Setelah mencari kesana kemari akhirnya kami dapatkan lokasi yag cukup bagus. Terletak di bawah pepohonan dan dekat jalur gajah sumatra, kami memberanikan diri bermalam di sekitar jalur tersebut karena menurut perkiraan kami gajah baru melewati jalur tersbut 2 hari yang lalu, hal itu terlihat dari jejek dan kotoran yang terdapat di sekitar jalur. Jadilah kami mendirikan tenda untuk tempat bermalam, beristirahat dan perlindungan dari cuaca buruk di luar. Sebelum tidur kami memasak untuk makan malam. Usai makan makan kami semua tidur untuk memulihkan dan mengumpulkan tenaga. Esok pagi kami akan melakukan Summit Attack atau mendaki ke puncak  gunung Leuhob.

Rumah kami di Gunong Leuhob..

Rumah kami di Gunong Leuhob..

Pagi hari kami bangun agak terlambat. Yang tadinya rencana bangun pukul 6 kami bangun pukul 6:30. Jujur saja disubuh itu saya sangat malas bangun karena dingin yang menusuk sampai ketulang. Semangat saya timbul setelah mengingat pencapaian saya yang susah sejauh ini. Segera saya packing membawa apa yang di butuhkan saat menuju puncak.

Mulai berjalan menjauhi tempat bermalam dengan langkah yang awalnya dengan semangat 45 dihantam hujan rintik – rintik yang membuat dingin semakin extrem saja. Sewaktu saya melihat ke sekeliling tampak kabut menyelimuti sekeliling kami. Kami mulai membuka jalur berjalan perlahan mencari puncak. Sungguh extrem jalur ini, kami berjalan di antara pepohonan rotan yang lebat,hujan tiada henti membuat jalur berlumpur yang membuat sepatu kadang terbenam sehingga sulit berjalan. Di tambah bila kabut meyelimuti membuat pandangan kami kurang jelas.. baru gunung Leuhob inilah saya mengalami hal semacam ini. Benar-benar gunung yang susah untuk di daki, butuh semangat dan keinginan kuat untuk bisa melewati rintangan yang ada.

salah satu jalur pendakian yang tergenang air..

salah satu jalur pendakian yang tergenang air..

Sekitar setengah hari kami berjalan tidak nampak puncak gunung leuhob,yang ada berupa rawa – rawa yang luas ditumbuhi rerumputan kalau kita berjalan diatas rumput – rumput tersebut agak terasa bergoyang seperti gempa terletak persis di sebelah kanan puncak gunung Leuhob.Kami terus berjalan melawati rawa – rawa tersebut sambil menentukan posisi kami di peta.Jam di tanganku menunjukan pukul 12.30,selama dalam perjalanan hujan rintik – rintik tiada henti membasahi kami sampai kami beristrirahat makan siang.

Rawa - rawa Gunung Leuhob sebagian diselimuti kabut

Rawa – rawa Gunung Leuhob sebagian diselimuti kabut

Lepas dari istirahat kami harus melanjutkan perjalan untuk mencari puncak. Medannya berupa pepohonan rotan. Sangat sulit berjalan di medan seperti ini karena banyak duri – duri yang siap menusuk.Disini bukan hanya kaki yang bekerja, tangan juga. Tenaga saya sudah terkuras habis disini, saya hampir saja putus asa dan merasa tidak saggup lagi melanjutkan perjalanan ini. Di pepohonan saya berhenti mengumpukan tenaga dan melihat koordinat di GPS dan-menimbang ini puncak atau bukan. Ternyata benar ini bukan puncak yang kami cari.Pikiran-pikiran itu berkecamuk hebat dalam otak saya.

Diantara lumut - lumut yang menyelimuti pepohonan.

Diantara lumut – lumut yang menyelimuti pepohonan.

Akhirnya setelah berpikir panjang dan kami berbalik mencari jalur yang lain. Saya tekatkan lagi berjalan menuju puncak !!! Kami mengubah strategi, berjalan perlahan namun pasti. Dalam artian berjalan dengan langkah pendek agar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga, namun tetap bergerak. Tapi tetap saja, tenaga saya memang sudah terkuras habis. Kaki ini terasa sagat berat untuk dilangkahkan. Namun tekad sudah saya tetapkan, harus terus mendorong batas kemampuan sampai puncak. Satu pikiran yang membuat saya semangat waktu itu adalah, orang pertaman berdiri di Puncak Gunung Leuhob. Gunung impian saya 1 tahun lalu, dan saat ini sedikit lagi saya sampai ke uncak impian itu. Perlahan namun pasti saya langkahkan kaki ini, menapaki terjalnya medan pendakian menuju puncak.Jam di tanganku menuju pukul 4.30,kata kawan – kawan sahabat pencinta alam,kita lanjutkan perjalanan besok,berhubung kita sangat kelelahan kami memutuskan untuk bermalam di sebuah pinggiran sungai yang sangat jernih airnya seperti air aqua dan bebatuan yang ada di sekitar sungai di selimuti oleh lumut.

Brrr...dingin airnya kawan..

Brrr…dingin airnya kawan..

Setelah melalui malam yang panjang dan pagipun tiba,kami bangun jam 7.00 makan,beres – berest dan melanjutkan perjalanan menuju puncak.Perjalanan memakan waktu 5 jam .Ada satu orang pendaki yang memberi semangat yang mengatakan puncak sudah di depan mata. Perkataan itu membuat semangat saya bagkit lagi. Segera saya percepat langkah dan tibalah saya di suatu dataran yang tidak lebar, inilah dia puncak Gunung Leuhob !!! Tepat jam 11.30 Alhamdulillah, Allahu akbar !!! itulah kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika sampai di puncak. Saiful Wadhan langsung mengumandangkan azan. Segera saya keluarkan bendera Mapala Jabal Everest yang saya bawa di dikibarkan di puncak.

Ini dia muazimnya Gunong Leuhob

Ini dia muazimnya Gunong Leuhob

Puncak Leuhob ini berbeda dari puncak-puncak gunung yang pernah saya pijak. Puncaknya sangat sempit, langsung berhadapan dengan jurang yang sangat dalam. Dan sewatu memandang ke sekitar, tidak ada yang luar biasa. Hanya terlihat lebatnya pepohonan yang luar biasa kami berdiri di ketinggian 2 000 meter dan bisa mencapai puncak gunung leuhob yang penuh misteri menurut masyarakat Blang pandak dan masyarakat Tangse. Sungguh beruntung saya mendapat kesempatan berdiri di puncak Gunung Leuhob ini, pengalaman yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Suatu kebanggan atas keberhasilan dari perjuangan panjang.

Ini dia wajah - wajah pendaki dari Jabal Everest.

Ini dia wajah – wajah pendaki dari Jabal Everest.

Setelah mengabadikan momen istimewa tersebut ke dalam kamera untuk kenangan, kami bergegas turun karena kabut mulai menebal dan hujan juga telah telah turun Menurut info yang saya dapatkan, karakteristik gunung Gunung Leuhob memang begitu. Hujan tidak pernah berhenti di sekitar gunung tersebut sehingga permukaan tanah berlumpur dan di beri nama Gunung Leuhob (Gunung Lumpur).

Target selanjutnya Gunung Ajibon..di dapan mata.

Target selanjutnya Gunung Ajibon..di depan mata.

Bila sewaktu mendaki kami butuhkan waktu lebih dari  2 hari dari desa Blang pandak Saat turun kami cuma habiskan waktu sekitar 6 jam hingga tiba di kampung terakhir. Kaki pun mulai melangkah turun. Buat masalah turun gunung itu adalah bagian yang saya sukai. Karena saya bisa meluncur di pasir untuk turun. Sangat banyak pengalaman baru yang saya dapatkan di gunung Leuhob ini, ini semua adalah pengalaman berharga yang mungkin tak akan terlupakan seumur hidup saya.

Singkat cerita sampailah kami di desa Balng pandak. Disana kami beristirhat di depan sebuah batu besar menghadap ke arah gunung Halimon Wow…pemandangan dari sini pun tak kalah indahnya. dari sini.

Sebagian aktivitas warga Blang Pandak

Sebagian aktivitas warga Blang Pandak

Masak sudah, kini saatnya bersantap siang. Hmm…dengan rasa lapar seperti ini menu sederhana berupa mie instan, sarden dan sambal kering teri kacang,daun paku di santap habis. Setelah makan kami sambung lagi dengan minum capucino. pulihlah sudah tenaga, kembalilah sudah kalori yang kami keluarkan. Kami merencanakan ke sekret malam dengan. Sementara saat ini jam masih menunjukan pukul 17.30 . Hmm…segera saja kami manfaatkan jeda waktu yangada untuk tidur. Memulihkan tenaga agar kondisi badan fit saat turun  tadi. Tidur sebentar namun nyenyak karena kecapean, akhirnya kami bangun segera berkemas dan bersiap untuk balik.

Alhamdulilah, satu petualangan baru telah saya lakukan untuk menambah daftar tempat-tempat eksotis yang pernah saya datangi. salah satunya ini, Gunung Leuhob. Sebuah gunung yang amat indah. Akhirnya saya berhasil sampai kesini dan Terima Kasih Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah menginjinkan saya menikmati salah satu alam indah ciptaanNya.

Oke, sepertinya sampai disni dulu saya bercerita tentang petualnagan saya mendaki gunung Leuhob berketinggian 2.000 meter. Namun cerita saya menjelajahi gunung Aceh ini belum usai. Usai sukses pendakian gunung Leuhob ini saya melanjutkan pendakian ke Gunung Peut Sago. Nantikan kelanjutan kisah pendakian saya ke Gunung Peut Sagoe di postingan yang akan datang. Akhir kata saya ucapakan terima kasih untuk pembaca setia blog saya ini. Bila berkenan marilah kita berkomunikasi melalui kotak komentar yang ada di bawah. Terima kasih.

Anggota team ekpedisi Gunung Leuhob..

Anggota team ekpedisi Gunung Leuhob saat pelepasan oleh Purek III ..

 

By.Almahdi

Iklan

Posted on 26 Juli 2014, in Adventure. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s