Monthly Archives: Juli 2014

Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus)

Gajah merupakan salah satu jenis mamalia darat terbesar yang sekarang ini hanya tinggal dua spesies yaitu, Gajah Afrika (Loxodonta Aficana) dan Gajah Asia (Elephas Maximus). Gajah Afrika tempat hidupnya di Afrika. Gajah Asia tersebar di daerah India, Malaysia, Thailand, Srilanka, dan Indonesia

Nenek moyang gajah pertama kali di temukan sekitar 60 juta tahun yang lalu yaitu pada zaman Eosen. Keturunan gajah bernama Moeritherium. Moeritherium di temukan di Mesir dengan ciri – ciri bentuk moncong yang tidak berbatang dan pendek seperti moncong tapir.
Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus)

Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus)

Mammuthus phimigenius mempunyai ciri yang yang menonjol yaitu mempunyai bulu yang tebal, panjang dan kasar yang berfungsi melindungi tubuhnya dari cuaca dingin. Dari ciri tersebut dapat di tebak bahwa spesies tersebut hidup di daerah dingin di Serbia. Pada zaman itu manusia menggambarkan mammut di atas dinding – dinding gua.

Dalam sejarah juga di katakan bahwa spesies elephas maximus berasal darAsia Selatan dari Hilmaya menuju Indochina dan Semenjung Malaya, China Utara berakhir di pulau di Yang – tze, berlanjut di Srilanka dan berakhir di Pulau Sumatra.Gajah Sumatra termasuk anak Gajah Asia yang ciri serta sifatnya tidak berbeda dengan gajah Asia lainnya.

Gajah Sumatra memiliki nama ilmiah Elephas maximus sumatranus tenminck,termasuk dalam Phylum Chordata, Sub Phylum vetebrata, kelas mamalia, Ordo Proboscidae ,famili Elephantidae ,genus Elephas ,Spesies Elephas maximus Linnaeus ,dan Sub Spesies elephas maximus sumatranus tenminck.

Ukuran tubhu Gajah Asia dewasa adalah 250 – 300 cm, panjang ekor 120 – 150 cm dan berat mencapai 5000 kg. Gigi gajah berbentuk pipih seperti piringan dan mempunyai formula susun : gigi seri, taring, premolar dan molar berjumlah 26 buah.

Belalai berfungsi sebagai tangan, alat penciuman, alat bernafas, dan alat komunikasi. Belalai di lengkapi dengan otot sejumlah lebih kurang 40.000 buah sehingga sangat elatis. Indera penciuman gajah sangat baik dan merupakan sangat penting, sedangkan indera penglihatan sangat buruk.

Sistem reproduksi gajah jantan terdiri dari testes yang tetap berada di rongga perut ,penis berbentuk seperti gandul yang apa bila keluar dapat menyentuh tanah . Namun pada ummunya penis ditarik

ke dalam kantong kulit yang mengarah ke bawah menyerupai vulva gajah betina .Gajah sumatera mempunyai dua buah puting susu yang terletah di antara kaki depan.

Pada waktu tertentu gajah jantan dewasa mengalami peningkatan produksi testostero yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku yang di kenal dengan istilah musth.Musth ditandai dengan meningkatnya sekresi kelenjar temporal yang hanya terdapat pada gajah dan terletak dikulit pada ossa temporalis, ditandai dengan keluarannya cairan kekuningan dan kental dari kelenjar temporal yang hanya terdapat pada gajah dan terletak di kulit pada ossa temporalis, di tandai dengan keluarnya cairan kekuningan dan kental dari kelejar temporal,urinas semakin meningkat, adanya gerakan ritmik kepala dan leher dan hewan sangat sulit di atasi.

Gajah betina sudah dapat bunting di mulai pada usia 15 – 16 tahun. Masa kandungan gajah sangatlah lama, sekitar 21 – 22 bulan.Pada prinsipnya setiap satwa memerlukan tempat tinggal,berkembang biak dan mencari makan sebagai tempat kebutuhan hidup. Tempat – tempat yang berfungsi seperti ini membentuk suatu kesatuan yang disebut dengan habitat. Gajah hidup di daerah – daerah berhutan dan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada habitat asli gajah menyukai tempat tinggal berupa berhutan rapat dan daerah yang lebih terbuka dengan tumbuhan ruput atau semak. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, gajah selalu bergerak dalam suatu daerah jelajahnya.

Suatu populasi mempunyai kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang, tetapi dapat menyusut jumlahnya hingga punah. Keadaan tersebut sangat di tentukan oleh kemampuan genetik dan adanya interaksi dengan lingkungan. Komponen – komponen lingkungan yang menahan pertumbuhan populasi sangat komplek dan saling berkaitan satu sama lainnya. Jumlah individu suatu populasi megalami perubahan – perubahan dari waktu ke waktu dengan laju pertumbuhan tertentu.

 

Sumber : FFI Aceh 2008

Iklan

Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau sumatra hanya di temukan di Pulau Sumatra, Indonesia.Populasi liar harimau sumatra di perkirakan sekitar 400 – 500 ekor.Pada awalnya di Indonesia terdapat tiga jenis harimau yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica) yang di perkirakan telah punah sekitar tahun 1972 dan harimau Bali (Panthera tigris baica), yang di perkirakan punah sekitar tahun 1937. Saat ini harimau sumatra merupakan satu – satunya jenis harimau yang terdapat di Indonesia.

Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Harimau sumatra adalah jenis harimau dari delapan jenis yang ada di dunia. Harimau sumatra jantan memiliki panjang rata -rata 92 inci dari kepala ke yang buntut dengan berat 300 pound. Betinanya rata – rata memiliki panjang 78 inci dan berat 200 pound. Belang harimau sumatra lebih tipis dari pada sub spesies harimau lain. Sub spesies ini juga memiliki lebih banyak janggut serta surau di bandingkan sub spesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela – sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini di ketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bile binatang beruang tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

Harimau sumatra hanya di temukan di Pulau Sumatra. Jenis kucing besar ini mampu hidup dimanapun, dari hutan daratan rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi.

Harimau sumatra dapat berkembang biak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari ke sepuluh. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namum mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau sumatra dapat hidup selama 15 tahun di alam.

Harimau sumatra berfungsi untuk menjaga keseimbangan alam diantaranya dengan berfungsi untuk mengurangi hama babi yang mengganggu perkebunan masyarakat.Kereberadaan harimau sumatra terancam dari kehilangan habitat (tempat tinggal) dari penebangan dan pembukaan lahan serta pemburuan.

Bambu (Trieng)

Bambu adalah tanaman jenis rumput – rumputan yang memiliki pori – pori dan bentuk tabung berongga yang beruas – ruas. Tanaman bambu hidup merumpun. Di wilayah pedesaan seperti kita lihat di Jawa atau Sumatra, bambu kadangkala berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa dengan desa lainnya atau wilayah suatu inti komunitas desa dengan wilayah persawahan dan perkebunan.

Suasana di pedesaan yang eksotis, kadang – kadang juga di pengaruhi oleh rimbunan bambu serta suara yang khas yang tercipta dari pergesekan antar bambu. Bunyi bambu – bambu itu seperti lengkingan berirama, tapi tidak terdengar begitu nyaring. Kata trieng yang dalam bahasa Aceh yang berarti bambu.

Bambu (Trieng)

Bambu (Trieng)

Penduduk desa sering menanam bambu di sekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam jenis bambu bercampur yang di tanam di perkarangan rumah mereka. Bambu dapat di manfaatkan mulai dari ujung, termasuk daun dan cabang, hingga akar dari tumbuhan bambu. Fungsinya bermacam – macam pula, mulai dari sebagai bahan material bangunan, obat – obatan, perabot dapur dan rumah tangga, pengusir hama sawah, kentongan siskambling atau penabuh beduk di musala (tatok trieng), seni kerajinan tangan, penyaring bahan berbahaya / racun dalam tanah, penyerap karbon, hingga sebagai alat mainan tradisional anak – anak pada perayaan atau musim tertentu. Di Aceh, misalnya mainan beude trieng (meriam bambu) yang di mainkan saat perayaan malam lebaran.

Tanaman bambu sering tumbuh di dataran rendah sampai dengan pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 mdpl. Bambu tumbuh di tempat- tempat terbuka dan daerah bebas genangan air.

Kolo bambu terdiri atas sekitar 50% parenkin, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes) (Dransfield Widjaja : 1995). Parekin dan sel penghubung lebih banyak di temukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Kesemua merupakan jaringan utama pada susunan anatomi bambu.

Susunan anatomi itu yang membedakan bambu dan kayu. Serabut berfungsi memberikan kekuatan pada bambu, sedangkan pembuluh merupakan media pergerakan air yang memberikan bobot dalam batang bambu.

 Bambu termasuk tanaman Bamboidae anggota sub familiar rumpu. Bambu memiliki keanekaragaman di dunia sekitar 1250 – 1500 jenis, sedangkan Indonesia memiliki hanya 10% sekitar 154 jenis bambu (Wijaya et al, 2004). Namun pada umumnya masyarakat nusantara sering menanam dan memanfaatkan jenis bambu tali, bambu petung, bambu andong dan bambu hitam.

Bambu termasuk suku rumput – rumputan (graminae). Batangnya berbentuk pipa yang beruas – ruas, di dalam tiap ruas tersebut terdapat ruang udara hampa. Ruas – ruas tersebut di batasi oleh sekat – sekat yang disebut juga dinding antar. Batang – batang ruas terbentuk oleh serat – serat yang lurus dan memanjang, bagian luar dan bagian dalam batang di tutupi oleh kulit keras (cuticula).

Bambu sebagai peganti kayu

Bambu adalah alternatif kayu sebagai komponen konstruksi bagunan rumah dan jembatan. Membuat rumah dengan bambu lazin di temui di pedesaan. Selain itu rumah – rumah tradisional di Indonesia, seperti dalam Rumoh Aceh sebenarnya juga memanfaatkan unsur bambu sebagai komponen alternatif atau pelengkap dalam konstruksi bangunan. Misalnya yang terlihat pada bagian dinding ruangan, bagian alas lantai rumah, rangkang atau panteu tempat duduk yang menyerupai meja, bahan baku reng (gasen), beuleubah (tempat menyemat atap) dan lain – lain.

Alasan paling sederhana mengapa masyarakat pedesaan menggunakan bambu sebagai bahan material konstruksi bangunan rumahnya karena faktor ketersedian bambu di lingkungan mereka, harga bambu yang relatif murah dan faktor – faktor lainnya seperti kemanpuan meredam panas pada bangunan dari bambu.

Bambu sebagai bahan alami yang memiliki pori – pori dan berbentuk tabung dengan rongga di dalamnya, memiliki kemanpuan meredam panas. Udara panas masuk melalui pori – pori bambu dan menyimpan hawa panas di dalam tabung rongga – rongga bambu. Di siang hari saat bangunan di siram panas, bambu ini melepaskan udara dingin yang di simpan sejak semalam, sedangkan pada saat malam hari dimana udara luar menjadi dingin, bambu melepaskan panas yang di simpan sejak siang hari.

Di daerah -daerah terpencil kadang kala bambu di manfaatkan sebagai konstruksi jembatan. Dalam hal konstruksi bangunan mamfaat lainnya dari bambu adalah sebagai salah satu konstruksi tahan gempa.

Konstruksi bambu menimalisir dampak gempa dan angin badai. Bagaiman konstruksi bangunan dari bambu dapat menahan gempa?. Hal ini karena sifat yang dimiliki bambu yang lentur atau tidak kaku.Kelenturan bambu akan mempertahan konstruksi bangunan ketika gempa datang. Konstruksi bambu akan bergerak mengikuti arah getaran gempa. Bobotnya yang ringan akan mempertahankan berat keseluruhan struktur bangunan sehingga dapat mengurangi kerusakan total bangunan.

Bangunan dari bambu kadangkala juga di kenal tahan terhadap tiupan angin. Perilaku bambu yang mengikuti arah angin dan akar sebagai pondasinya yang kuat dapat mempertahankan bangunan struktur. Tinnggal bagaimana memberi sentuhan fondasi yang aman bagi strukutur bangunan. Dengan cara memberi landasan bagi beton atau batu bata. Namun yang harus di ingat adalah bagaiman di sebutkan Eko Prawoto, salah seorang arsitek yang mengembangkan konstruksi bambu di Indonesia, bagian bawah struktur bambu tidak boleh bersentuhan langsung dengan tanah untuk menghindari pelapukan.

Bambu memang memiliki kelebihan tersendiri dalam pekerjaan konstruksi bangunan. Tetapi tidak juga sedikit kekurangan dari pemanfaatan bambu sebagai alternatif peganti kayu atau semen. Biasa karena sifat bambu yang renta terhadap pelapukan dan serangan mikro organisme tertentu. Walaupun begitu, teknik – teknik pengawetan bambu terus di kembangkan oleh banyak pihak yang tertarik memamfaatkan bambu.

Bambu dan Usaha Konservasi

Bambu ternyata dapat di gunakan sebagai salah satu usahakonservasi lingkungan. Selain sebagai penyerap karbondioksida, yang merupakan salah satu unsur penyebab pemanasan global, bambu juga adalah pelindung sumber – sumber tangkapan air bagi kehidupan kita.

Konsevasi daerah aliran sungai (DAS) dapat menggunakan tanaman bambu sebagai pilihan usaha reboisasi. Sifatnya yang berkelompok dapat mencegah timbulnya erosi tanah yang berlebihan di sepanjang aliran sungai. Selain itu fungsi anatomi bambu yang baik merupakan sistem pengatur dan sistem yang dapat mempengaruhi retensi air dalam lapisan topsoil (tanah permukaan) yang mampu meningkatkan aliran air bawah tanah sangat nyata.

Hasil studi Akademi Beijing dan Xu Xiaoging, yang melakukan inventarisasi dan perencaan hutan dengan melakukan studi banding hutan pinus dan bambu pada DAS ternyata bambu menambah 240% air bawah tanah lebih besar di bandingkan hutan pinus. (Bareis,1998, dalam Garland 2004 dan repro Lieke Tan)

Selain itu, hasil studi lain yang di kembangkan oleh Utthan Centre dalam upaya konservasi pada lahan bekas penambang batu di India. Memperlihatkan bahwa terjadi telah kenaikan permukaan air bawah tanah 6,3 meter sejak bambu di tanam 4 tahun lamanya di areal hutan bambu seluas 106 ha. Hasilnya seluruh areal penanaman menghijau serta memberi pekerjaan kepada sekitar 80% penduduk setempat dan menambah pendapatan masyarakat melalui industri kerajian Bamboo. (Tewari , 1980 dalam Garland 2004 dan repro Lieke Tan).

Sebagai penyerap karbon, bambu ternyata adalah media cukup efektif pula. Emviromental Bambo Foundation (EBF) dalam wabsite resminya menyebutkan bahwa bambu dapat melepaskan lebih 35% oksigen.Beberapa jenis bambu malahan bisa menyerap hingga 12 ton karbon dioksida dari udara per hektarnya. Usaha mencegah pemanasan global tentu dapat memanfaakan tanaman bambu.

Bicara tentang ketangguhan, bambu adalah salah satu jenis tanaman yang sangat survive (berdaya tahan). Ini di buktikan pada saat bom Hiroshima menguncang Jepang di tahun 1945. Waktu itu bambu adalah salahsatu jenis makhluk yang hidup dan bertahan di saat yang lain mati.

Manfaat bambu cukup banyak, mulai dari ujung atas sampai akar – akarnya. Maka mengapa masih takut mengembangkannya. Dengan menanam semakin banyak bambu, sebenarnya kita sedang berusaha memperbaiki ekonomi kita secara sampingan sekaligus menyelamatkan hutan tropis terutama di Aceh sebagai kekayaan dunia. Tentu dengan memulai mengganti bambu dengan kayu.

Penulis : Almahdi

Sumber : FFI Aceh

Beruang Madu

Dalam keluarga beruang,terdapap 8 jenis beruang di dunia yang hidupnya menyebar. Mereka di kenal sebagai Beruang kutub, beruang coklat, beruang hitam amerika,beruang andes, beruang panda, beruang sloth, beuang hitam asia dan beruang madu.

Beruang madu dalam istilah ilmu pengetahuan dikenal dengan nama Herarctos malayanus, yang berarti beruang matahari dari Malaya, dalam bahasa Inggris disbut Sun Bear, beruang madu adalah jenis beruang terkecil dari jenis beruang lainnya. Berat badannya berkisar antara 30 – 60 kg dengan panjang badan yang berkisar antara 100 – 120 cm. Walaupun ia yang terkecil, beruang madu memiliki lidah dan kuku depan yang terpanjang. Selain itu setiap ekor beruang madu dapat dikenali dari tanda di dadanya yang mempunyai bentuk, corak, dan warna yang khas.

Beruang Madu (Helarctos Malayanus)

Beruang Madu (Helarctos Malayanus)

Lidah dan kuku panjang digunakan untuk mencari makanan, sebab beruang madu sangat suka memakan berbagai jenis serangga seperti rayap dan ulat kumbang yang hidup dalam kayu lapuk. Ia juga sangat suka sekali makan madu. Dengan taring dan kukunya, ia dapat dengan mudah membongkar kayu untuk mencari sarang lebah atau kelulut yang tersembunyi di dalam batang pohon.

Selain itu, beruang madu sangat suka makan buah – buahan, bila pada musimnya, mereka paling suka makan buah durian, cempedak dan beragam buah lainnya. Bahkan kadang – kadang ia makan beberapa jenis bunga. Jadi walau beruang madu tergolong  dalam keluarga karnivora (pemakan daging) sebetulnya ia adalah satwa omnivora (seperti manusia).

Beruang madu hanya terdapat di Asia Tenggara. Mereka hanya ada di hutan hujan tropis di bagian timur India, Banglades, Burma, Laos, Thailan, Kamboja, Vietnam, Malaysia, di Pulau Sumatera dan Borneo  (termasuk Kalimantan, Brunei, Sabah dan Serawak).

Beberapa catatan terdahulu menunjukan bahwa beruang madu pernah ada ditemukan di Tibet bagian timur, Cina Selatan dan Pulau Jawa. Namun telah punah akibat hutan di daerah tersebut telah punah akibat hutan di daerah tersebut telah rusak dan adanya pemburuan beruang  oleh manusia.

Di habitat alaminya, beruang madu memiliki wilayah jelajah yang cukup luas. Dari penelitian yang pernah dilakukan, luas hutan yang dibutuhkan oleh beruang madu, diketahui untuk satu ekor betina sekitar 500 Ha, dan luas untuk satu ekor jantan sedikitnya 1.500 Ha. Luasnya wilayah jelajah yang dibutuhkan sangat tergantung dari ketersediaan sumber makanan.

Beruang madu hidupnya diurnal, yang berarti aktif pada siang hari, tetapi sering juga tidur sejenak pada siang hari. Belum banyak yang diketahui bagaimana pola sosial beruang madu. Data yang ada menunjukan bahwa mereka merupakan satwa yang hidup menyendiri, sama halnya dengan jenis beruang lain.
Kelompok beruang madu yang sering ditemukan di hutan hanya induk dengan anaknya (satu anak yang dilahirkan setiap 2 atau 3 tahun). Terkadang pada saat musim buah yang besar dapat saja mereka terlihat dalam kumpulan.

Beruang madu sangat berperan dalam meregenerasi hutan sebagai penyebar biji buah – buahan dan terkenal sebagai pemanjat pohon yang ulung. Sifatnya pemalu, hidup soliter/penyendiri, aktif di siang hari dengan kebutuhan wilayah jelajah yang luas. Beruang madu adalah satwa yang dilindungi, statusnya terancam punah dan hanya ditemukan hidup di hutan hujan tropis Asia Tenggara. UU Pemerintah Indonesia No.5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (BKSDA) dan Ekosistemnya, telah melindungi beruang madu di Indonesia.

Beruang Madua atau Sun Bear adalah beruang terkecil di dunia, tingginya sekitar 4 kaki (1,2 meter). Mereka tinggal di daerah hutan hujan tropis di Asia Tenggara. Beruang madu merupakan hewan omnivora yang memakan berbagai jenis tanaman dan hewan. Saat ini beruang madu terancam punah karena berkurangnya habitat mereka akibat pemburuan liar, baik untuk diambil dagingnya atau kepentingan medis.

 

Sumber : FFI Aceh, Kumpulan Informasi Menarik Tetang Beruang Terkecil di Dunia.

Kukang (Bue Angen)

“Si ekor pendek yang berjalan dan memanjat perlahan”

Kukang atau dalam bahasa Aceh disebut Bue angen memiliki panjang kepala hingga tubuh 199 – 275 mm dengan ekor sepanjang 13 – 25 mm dan panjang kaki belakang 48 – 63 mm dan berat badan 220 – 610 gr. Warna umumnya bervariasi dari coklat abu – abu hingga coklat kemerahan, dengan garis coklat dari bagian atas kepala hingga bagian tengah punggung atau pangkal ekor. Jenis ini memiliki lingkaran seperti cincin berwarna gelap yang mengelilingi mata serta hidung berwarna putih. Mata memancarkan cahaya kemerahan pada malam hari. Bulu halus dan lebat.

Kukang (Nycticebus Coucang / Slow loris)

Kukang (Nycticebus Coucang / Slow loris)

Jenis ini dapat di jumpai di beberapa negara di antaranya Bangladesh, Brunei Darusallam, Burma, Camboja, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia jenis ini terdapat di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Kukang adalah jenis hewan nocturnal dan biasanya arboreal pada pohon yang berukuran kecil dan sedang. Jenis ini adalah pemakan buah – buahan tapi kadang – kadang makan serangga, daun dan telur burung. Kukang biasanya minum dengan cara membengkokan sumber air dan menjilatnya. Jenis ini tidur dengan posisi duduk atau berbaring atau miring. Kukang akan merenggangkan tubuhnya ketika cuaca sedang panas. Pada siang hari biasanya kukang beristirahat pada lubang pohon atau pada pucuk rumpun bambu.

Kukang bergerak sangat lambat dan berpindah dari pohon ke pohon di antara cabang. Jenis ini dapat bergantungan dengan satu atau kedua kaki dalam waktu yang cukup lama.Kukang biasanya hidup di hutan primer maupun hutan sekunder serta perkebunan. Kebanyakan jenis ini hidup soliter.

Kukang jantan memiliki wilayah sebaran yang overlap dengan betina dan sangat teritorial sehingga tidak akan membiarkan jantan lain memasuki wilayahnya. Bayi kukang biasanya bergantung pada vetrum betina, bahkan pada saat betina sedang bergerak. Bayi kukang mulai aktif bergerak pada usia 6 – 8 minggu dan sesudah minggu ke 16, bayi kukang lebih mandiri meskipun masih berhubungan dengan ibunya.

Kukang biasanya memiliki satu anak, tapi kadang – kadang kembar. Kukang betina memasuki periode pubertas pada usia 18 – 24 bulan, sementara periode pubertas jantan lebih cepat dari betina

Referensi :

Ehrlich, A. and Macbride, L. 1989. Mother – infant interactions in captive slow lorises (Nycticebus caucang). American Journal Of Primatology. Vol. 19,217 – 228

FFI Aceh

Kantong Semar

Kantong semar adalah nama tumbuhan yang masuk genus Nepenthes (Inggris: tropical pitcher plant). Ia termasuk dalam famili monotipik. Beberapa spesies Nepenthes termasuk yang hibrida atau buatan. Nepenthes merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis yang meliputi Indonesia , China selatan, Indochina, Malaysia, Filipina, Madagaskar bagian barat, Seychelles, Kaledonia Baru, India, Sri Lanka, dan  Australia. Di Indonesia setidaknya terdapat 85 spesies kantong semar. Habitat dengan spesies terbanyak di Kalimantan dan Sumatra.

Tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan memanjat tanaman lain. Namun, ada beberapa spesies yang tidak memanjat. Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsa. Misalnya, serangga, pacet, anak kodok. Mereka terjebak dalam kantong karena tertarik dengan bau harumnya.

Salah satu jenis kantong semar.photo di ambil saat XPDC Gunung Leuhob..

Salah satu jenis kantong semar.photo di ambil saat XPDC Gunung Leuhob..

Umumnya, Nepenthes punya tiga macam kantong, yaitu kantong atas, kantong bawah, dan kantong rosette. Kantong atas adalah kantong dari tanaman dewasa, biasanya berbentuk corong atau silinder. Kantong atas lebih sering menangkap hewan yang terbang seperti nyamuk atau lalat, kantong jenis ini jarang bahkan tidak ditemui pada beberapa spesies, contohnya N. ampullaria.

Kantong bawah adalah kantong yang dihasilkan pada bagian tanaman muda yang biasanya tergeletak di atas tanah, memiliki dua sayap yang berfungsi sebagai alat bantu bagi serangga tanah seperti semut untuk memanjat mulut kantong.

 Kantong rosette, mirip kantong bawah, tetapi kantong ini tumbuh pada bagian daun berbentuk rosette, misalnya,  N. ampullaria dan N. gracilis. Beberapa tanaman terkadang mengeluarkan kantong tengah yang berbentuk seperti campuran kantong bawah dan kantong atas.

Sewaktu daun masih muda, kantong pemangsa pada kantong semar tertutup. Kantong membuka saat dewasa. Saat memakan mangsanya, kantong ini menutup, supaya proses pencernaan tidak terganggu.

Penyebaran kantong semar sangat luas, dari pantai sampai dataran tinggi. Maka,  kantong semar dibagi dalam dua jenis, yaitu jenis dataran tinggi dan jenis dataran rendah. Namun, kebanyakan spesies tumbuh di dataran tinggi. Spesies yang tercatat tumbuh di ketinggian paling tinggi adalah N. lamii yaitu di ketinggian 3.520 m.
Kebanyakan spesies hidup di lingkungan berkelembapan tinggi dan cahaya dengan tingkat menengah hingga tinggi. Spesies seperti N. ampullaria tumbuh di tempat teduh. Sebaliknya,  N. mirabilis tumbuh dengan cahaya berlimpah. Tanah tempat tumbuh Nepenthes biasanya miskin hara dan asam. Beberapa spesies tumbuh di tempat yang sangat beracun bagi tanaman lain seperti N. rajah yang tumbuh di tanah dengan kandungan logam berat. N. albomarginata tumbuh pada pantai berpasir di zona yang terkena siraman air laut. N. inermis tumbuh tanpa bersentuhan dengan tanah.
Kantong semar bagi para pendaki gunung, tidak asing. Tumbuhan yang kantongnya masih tertutup menjadi sumber air segar bagi para penikmat alam liar ini. Namun, jangan coba-coba minum air dari kantong yang sudah terbuka, rasa asam dan bangkai serangga sudah mengotori air dalam kantong.
Dari berbagai sumber

Sehari di Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin

Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin terletak di pinggiran jalan negara Banda Aceh – Medan,berdiri masih kokoh meskipun  sudah berusia 60 tahun.Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin yang dikalangan masyarakat luas dikenal dengan sebutan Mesjid Abu Beureu’eh. Abu Beureu’eh yang bernama lengkap Teungku H.Muhammad Daud  Beureu’eh adalah sosok yang memparkasai berdirinya mesjid tersebut.Mesjid yang di bangun pada tahun 1950. Abu Beureu’eh adalah seorang ulama pemimpin umat yang disegani dan dihormati oleh semua kalangan.Mesjid seluas 1.350 meter persegi dibangun Abu Beureu’eh dengan bantuan masyarakat,tahap pembanguna pondasi,penimbunan,pengadaan kerikil,batu,air dan sebagainya dikerjakan oleh masyarakat kecamatan Mutiara / Beureunun tanpa pamri.Untuk biaya membeli material dikumpulkan beras segenggam dari masyarakat baik yang tinggal di Aceh maupun yang tinggal di luar Aceh. Pembangun mesjid diatas tanah seluas 10.200 meter persegi inipun sempat tertunda karena terjadinya perang di Aceh.Baru pada tahun 1963 pembangunannya dilanjutkan kembali setelah Abu Beureu’eh turun dari gunung dan kembali ke pangkuan NKRI.

Mesjid Baitul A'la lil Mujahidin

Mesjid Baitul A’la lil Mujahidin atau di sebut juga Mesjid Abu Beureueh

Semasa Abu Beureu’eh masih hidup banyak masyarakat yang melintas baik dari arah timur maupun barat berupaya menjadwalkan shalat Jumat dimesjid yang dihiasi relif berukir hiasan flora ini.Sosok Abu Beureu’eh sebagai salah seorang tokoh panutan masyarakat Aceh.

Muhammad seorang warga Yaman yang saya jumpai seusai shalat Zuhur pada saat itu menyebutkan,hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang melalukan perjalanan singgah di mesjid ini untuk menunaikan shalat.

Dibagian belakang mesjid terdapat makam Abu Beureu’eh yang wafat pada hari Rabu 10 Juni 1987,makamnya berukuran 5×7 meter yang dipagari dengan terali besi,terdapat juga 2 pohon jarak dan batu nisan yang bertulis Tgk.Syi Di Beureu’eh (Tgk.Muhammad Dawud Beureu’eh) Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 Desember 1899),Wafat Rabu 14 Zulkaidah 1407 (10 Juni1987).

Menurut warga Yaman lain,sebagian orang yang singgah selain melaksanakan shalat juga melakukan ziarah ke makam Abu Beureu’eh. Namum sekarang seiring dengan perkembangan zaman’orang yang melakukan ziarah ke makam Abu Beureu’eh sudah mulai berkurang,tidak ramai seperti dulu lagi ujaranya.

Muhammad menyebutkan,meski mesjid ini tidak sanggup menanpung lagi para jamaah yang ramai khususnya pada saat shalat jumat dan acara yang diselenggarakan oleh pihak mesjid,perluasan mesjid ini tidak bisa dilakukan secara total karena mesjid ini telah ditetapakn sebagai cagar budaya,sebut Muhammad.Paling yang bisa dilakukan relif taman,pagar,sementara banguna dasarnya meski sudah usang  tetap tidak bisa diubah total.

Tepatnya pada tanggal 10 Agustus 2004 Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin telah ditetapkan sebagai cagar budaya/situs yang dilindungi Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya melalui Keputusan Menteri Nomor KM.51/OT.007/MKP/2004.

Disisi lain Baihaki seorang jamaah yang dijumpai usai shalat Zuhur menyebutkan,dalam setahun terakhir Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin mulai semarak dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.Tiap malam jumat mesjid ini ramai karena ada zikir bersama yang dipimpin khatib mesjid Waled Abu Bakar,ujarnya.

Selain zikir bersama pada bulan Ramadhan panitia mesjid juga menyediakan menu buka puasa bagi orang -orang yang melakukan perjalanan (safir).

 

By : Almahdi

Kedih (Reungkah)

Kedih (Reungkah ) adalah sejenis monyet atau lutung berekor panjang yang sebagian hidup terrestrial (diatas tanah) dan memiliki panjang badan antara 420 – 610 mm, ekor berukuran 500 – 850 mm dan berat antara 5.0 – 8.1 kg.Tubuh bagian atas berwarna abu – abu atau kehitaman dan bagian berwarna putih,ada jambul yang jelas diatas kepala dan bercak putih didahi.Pipi berwarna gelap,tangan dan kaki hitam.Jenis kedih terdapat di Sumatera bagian utara termasuk Aceh.

Reungkah atau Kedih

Reungkah atau Kedih

Kedih betina dapat melahirkan sepanjang tahun.Jenis primata yang hidup berkelompok antara 3 – 21 ekor, sebagian kelompok hanya terdapat satu jantan sehingga diasumsikan kedih hidup secara poligamus

Makanan utama kedih adalah buah – buahan, serangga, bunga cabang bahkan kadang – kadang tanah. Jenis daun yang sering dikonsumsi kedih diantaranya Gnetum latifollum, Paranephelium nitidum, Quercus sp, sedangkan tumbuhan buah diantaranya Dysoxylum spp, Cnestis platantha, dan Scorodocarpus borneensis.
Konsumsi air biasanya doperoleh dari makanan, tapi terkadang primata ini terkadang minum dari lobang pohon atau sungai – sungai yang kecil.Jumlah individual dalam satu kelompok kedih bervariasi antara 3 – 21 ekor. Kegiatan rutin kedih pada siang hari adalah beristirahat sesudah makan. Kedih biasanya di jumpai pada cabang tengah pohon bahkan di tanah. Tempat tidur pada malam hari baiasanya pada pohon yang tinggi mendekati pucuk, sementara tempat tidur pada siang hari umumnya diantara cabang pohon yang rimbun.Predator utama jenis ini adalah macan kumbang (Neofelis nebulosa), Harimau (Panthera tigris), dan ular piton (Python reticulatus).Presbytis thomasi hanya di jumpai di bagian utara Pulau Sumatera termasuk Aceh. Kedih adalah jenis primata yang sangat menarik dan pintar. Jenis ini sangat bermanfaat dalam membantu  regenerasi tumbuhan hutan terutama dalam menyebarkan biji buah hutan.

Sumber : FFI Aceh

 

 

 

 

 

Gunung Halimon

Mistis, satu kata yang paling sering dikaitkan dengan Gunung Halimon. Gunung yang terletak Blang Pandak,Kecamatan Tangse,Pidie ini konon orang sering menyebutnya gunung para aulia.Di puncak Gunung Halimon tersebut Muhammad Hasan Ditiro memploklamirkan Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember 1976.Boleh percaya, boleh tidak. Untuk sedikit pembuktian coba saja melakukan pencarian dengan kata kunci Gunung Halimon di Google. Saya sendiri menemukan banyak cerita mistis yang dialami para pendaki ketika melakukan ekspedisi di gunung ini. Namun bukan pendaki gunung namanya kalau menghindari pendakian gunung hanya gara-gara mitos seputar mistis.

Gunung Halimon di lihat dari desa Blang Pandak.

Gunung Halimon di lihat dari desa Blang Pandak.

Gunung Halimon terletak dikawasann Tangse kabupaten Pidie dengan ketinggian  1803 mdpl dengan koordinat 050 03’ 38,8’ Lintang Utara,0960 00.00,8 Bujur Timur, dengan suhu berkisar antara 30c sampai dengan 40c berbatasan dengan sebelah timur dengan Gle Leuhop,sebelah barat dengan panton Rasi, sebelah utara dengan Gle Meureuseu,dan sebelah selatan dengan desa Blang Pandak. Gunung Halimon belum memiliki rute pendakian yang biasa digunakan para pendaki. Kami Team Ekpedisi Mapala Jabal Everest membuat rute sendiri melalui Blang Pandak,pertama kami melewati panton rasi langsung ke kaki Gunung Halimon.

Jalan bebas hambatan ke panton rasi

Jalan bebas hambatan ke panton rasi

Perjalanan saya mulai dari sekretariat Mapala Jabal Everest melewati Kota Bakti , disambung perjalanan darat Gle Gapui – Tangse  ± 2 jam menggunakan sepeda motor. Untuk sampai di Blang Pandak, saya dan tim masih harus jalan – jalan berliku,kadang – kadang ada juga jalan yang sudah longsor.maklum Tangse daerah rawan longsor. Kebetulan kami malam di sertai dengan derasnya hujan dalam perjalanan,sungguh perjalanan yang cukup melelahkan.

Jam menunjukkan sekitar pukul 20.00 WIB ketika saya menginjakkan Pulo Seunong,kami menginap di rumah family salah satu anggota team saat itu. Hawa sejuk angin pegunungan terasa begitu dingin menyapa kulit. Sambil melakukan sedikit penyesuain diri dengan cuaca pegunungan, saya dan team menikmati hidangan nasi sambel super pedas yang dibawa dari kota Tangse. Kegiatan pendakian kami ke Gunong Halimom beranggotakan tujuh (7) pendaki dari Mapala Jabal Everest,Muhajir,Safrizal,Benny,Safrizal,Hafizd,Ismunandar,Safrida dan saya sendiri Almahdi.sebelum melakukan pendakian seperti biasa para pendaki mempersiapkan segala keperluan pendakian seperti alat – alat navigasi yang terdiri dari kompas,peta,GPS dan sebagainya dan juga mempersiapkan logistic yang diperlukan.

wajah - wajah garang pendaki Halimon..

wajah – wajah garang pendaki Halimon..

Pendakian diawali pada pukul 08.00 Wib dimana start pertama dari Blang pandak sebuah kampung yang berada di kaki gunung tersebut,kami menuju panton rasi kira – kira jarak tempuh lebih kurang 6km,Panton rasi merupakan tempat para penduduk desa mencari nafkah dengan cara bertani.pada saat dalam perjalanan banyak kami jumpai tumpukan kayu hasil penenbangan liar (ilegal logging),padahal pada saat itu pemerintah baik tingkat propinsi maupun kabupaten sedang gencar melarang penebangan liar,apalagi dilakukan dalam kawasan hutan lindung.perjalanan terus kami lanjutkan hingga sampai ke kebun warga,kebun yang terletak pas di kaki gunung Halimon dan kamipun rehat sejenak sambil menikmati sebatang cigaret 234,tiap istirahat anggota team terlihat selalu gembira,tertawa walau terasa lelah.

Suasana di kebun terakhir..

Suasana di kebun terakhir..

Banyak yang bilang Gunung Halimon rute tidak cocok untuk pendaki karena tidak ada jalur pendakian. Saya sudah mulai ngos-ngosan di awal pendakian. Kedua kaki saya rasanya berat sekali untuk digerakkan karena jarak tempuh dari Blang Pandak ke kaki Gunung Halimon kurang lebih 6 km perjalanan kaki. Beban tas carrier dipunggung tiba-tiba bertambah berat. Jantung rasanya mau copot, beradu cepat dengan irama nafas memompa oksigen ke seluruh tubuh. Siang menjelang ketika rombongan saya tiba di Alur Pisang (Alue Pisang) kami beri naman,karena banyak di tumbuhi pisang monyet. Kami beristirahat dan mempersiapakan makan siang diantara lebatnya hutan halimon.

Setelah selesai makan pendakian kami lanjutkan,pembukaan jalur pendakianpun kami lanjutkan sambil menikmati indahnya panorama alam yang masih belum terjamah oleh para penebang liar (ilegal logging).Sekitar pukul 16.00 WIB akhirnya kami tiba juga di tempat yang landai yang merupakan selter terakhir bagi kami sebelum mencapai puncak. Kami mendirikan tenda . Di sana kabut merusak pandangan kami. Sebelum beristirahat, teman-teman saya terlebih dulu menyiapkan makan malam dengan menu nasi putih dan ikan goreng dicampur sardines untuk mengganti energi yang hilang selama pendakian.Semoga rencana menuju puncak tidak akan gagal walaupun hujan masih menetes dari langit membasahi bumi.

Selter terakhir menuju puncak..

Selter terakhir menuju puncak..

Pagi itu kami hanya berdiam saja di tenda setelah sarapan sambil berharap kabut akan akan segera hilang. Penantian kami tidak sia-sia. Langit akhirnya menampakkan warnanya yang biru. Awan-awan dan kabut yang menyelimuti dari pagi hari akhirnya menyingkir. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan untuk melakukan pendakian ke puncak. Hanya butuh waktu sekitar 6 jam dari selter menuju puncak Halimon. Gunung Halimon sendiri memiliki 2 puncak kalau kita lihat dari Blang Pandak. Di antara dua puncak ini, Puncak yang kami capai merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 1083 mdpl.

Bendera kebanggan JE berkibar di Puncak Halimon.

Bendera kebanggan JE berkibar di Puncak Halimon.

Saat berada di puncak, hujanpun turun kembali. Cuaca di Gunung Halimon memang agak sulit ditebak pada saat pendakian itu. Dengan pertimbangan cuaca itu ditambah keadaan fisik yang masih kurang fit akhirnya kami memutuskan kembali. Perjalanan turun kadang membutuhkan waktu yang lebih cepat dari pada perjalanan naik. Namun dibutuhkan kehati-hatian yang lebih karena medan yang cukup curam dan licin. Di beberapa lokasi, rute yang harus dilalui bahkan sangat licin apalagi hujan.Di sepanjang perjalanan, mata akan disajikan pemandangan panorama alam yang tampaknya masih cukup lestari di Gunung Halimon.

Menikmati indahnya ciptaan Tuhan..

Menikmati indahnya ciptaan Tuhan..

Dengan perjuangan yang cukup melelahkan, kami tiba dengan selamat tanpa kekurangan apapun di Blang pandak sekitar pukul 16.00 WIB. Di balik semua kisah mistis dan misterinya ternyata Gunung Halimon memiliki keindahan pemandangan yang sungguh luar biasa. Indonesia itu memang indah kawan.

 

By : Almahdi

Pendakian Gunung Leuhob

Gunung Leuhob adalah gunung yang terletak di kecamatan Tangse Kabupaten Pidie Indonesia. Gunung ini dikelilingi hutan yang sangat lebat dan merupakan habitat harimau sumatera dan Gajah Sumatera. Puncak Gunung Leuhob berada pada ketinggian 2.000 mdpl. Keindahan panorama yang natural dengan kekayaan flora dan fauna dapat di temui mulai dari dataran rendah hingga puncak gunung Leuhob, tidak hanya untuk dinikmati tetapi sangat baik untuk melakukan penelitian dan pendidikan. Pendakian ke puncak gunung Kerinci memakan waktu dua hari mulai dari Blang Pandak.

Perjalanan dengan sepeda motor sejauh 60 Km harus saya tempuh dengan motor jupiter kesayangan. Motor yang setia membawa saya menjelajah berbagai tempat. Sepanjang jalan terutama setelah memasuki kecamatan Tangse disis jalan pemandangan pegunungan bukit Barisan. Disusul kemudian dengan bantaran sungai dan hamparan sawah yang bertingkat. Tidak berhenti sampai disitu, mata kami dimanjakan kembali dengan panorama indahnya perkebunan – perkebunan pinus yang sangat luas berbukit-bukit.  Pemandangan itu menghinoptis saya dan sepeda motor saya. Maksudnya begini, mata dan hati memaksa kami menghentikan sepeda motor untuk sejenak memandang luasnya perkebunan pinus yang tampak begitu indah. Jadilah saya hentikan sepeda motor di tepi jalan. Menghirup udara sedalam-dalamnya yang sangat segar ketika memasuki rongga paru-paru.

Perjalanan Jupiter kesayanganku

Perjalanan dengan  Jupiter kesayanganku

Hari itu tanggal, 29 Desember 2011. Kami berangkat beranggotakan 5 orang mengendarai 3 buah motor. Saya perkenalkan anggota tim Expedisi Ekplorasi Gunung Leuhob Mapala Jabal Everest yaitu, Saya sendiri (Almahdi), Rahmad Afrizal, Saiful Wadhan,Diswan Saputra dan Rayzatul Akmal. Perjalanan panjang yang kami lalui hingga sampailah kami di tempat tujuan yaitu desa terakhir Blang Pandak. Sesampainya disana,  hari sudah malam..Malam itu kami memutuskan untuk menginap malam ini dirumah kepala desa dengan. Itu adalah tempat dimana kami menginap malam pertama

Di rumah kepala desa Blang Pandak

Di rumah kepala desa Blang Pandak

Pagi tiba, kami bangun dan udara dingin yang dahsyat segera menyerang tubuh. Wajar saja, Blang Pandak berada di kaki Gunung Halimon. Pagi itu kami hanya sarapan. Kemudian kami mempersiapkan segala keperluan.Hari ini kami langsung melakukan pendakian.

Siap berangkat ni broe..

Siap berangkat ni broe..

Kami semua berkumpul tepat depan rumah kepala desa mengabadikan foto, berdoa dan kemudian bergerak. Langkah kaki pertaman mulai menapaki jalur awal pendakian gunung Leuhob. Jalur masih datar rasa lelah belum terasa hingga tak lama kemudian kami sampai di sebuah sungai. Di sana kami tidak berhenti, berjalan terus sampai selter pertama. Selter ini terkenal dengan jalur perlintasan rusa. Disini kami istirahat sebentar sembari ngobrol. Enaknya mendaki gunung Leuhob karena belum pernah ada pendaki atau pencita alam yang melakukan pendakian di karenakan gunung tersebut agak jauh dari akses masyarakat dan terkenal juga gunung yang bermitos tinggi setelah Halimon itu ke gunung itu yang menjadi impian kami untuk coba mendakinya.

Nampak wajah - wajah mulai serius..

Nampak wajah – wajah mulai serius..

Cukup istirahat kami lanjutkan perjalanan. Ternyata jarak tempuh lumayan jauh dan medan sudah banyak menanjak. Sementara perut sudah mulai lapar karena ini sudah lewat dari jam makan siang. Kami berencana makan siang di tempat yang agak landai sekalian istirahat agak lama disana. Setelah sekian lama berjalan mendaki sampailah kami di sebuah alur yang kami beri nama selter kedua. Brrr….hujan mulai turun hawa dingin mulai terasa disini. Mantel segera saya kenakan untuk menghalau hujan ini. Sembari makan siang dengan lauk alakadarnya. Usai makan istirahat sambil menghisap sebatang rokok kami packing dan segera melanjutkan pendakian dana kamipun mulai membuka jalur.

Kegiatan sambil masak..jangan abaikan waktu

Kegiatan sambil masak..jangan sia – siakan waktu

Hawa dingin, sedikit kabut, tanjakan terjal dan licin kami lalui. Untuk sampai dimana kami bisa menentukan posisi kami di peta dan tibalah kami di sebuah tempat yang kami beri nama kubang dimana di tempat tersebut ada sebuah kubang yang lumayan luas. Sang navigator pun mencari koordinat. Agak lama kami di kubang tersebut dan mengumpulkan tenaga yang mulai terserap banyak.

Navigator lagi serius..

Navigator lagi serius..

Selanjutnya kami bergerak lagi menuju tempat berikutnya. Karena tenaga yang mulai terkuras kami kembali memutuskan istirahat lagi. Kali ini kami istirahat sembari memanaskan air untuk ngopi. Mengingat hawa dingin yang mulai terasa sejak kami berada di diantara pepohonan rotan. Kopi panas dan biskuit kami rasa cocok untuk melawan dingin dan rasa lapar.

Terlihat segelas kopi diantara kesibukan sang navigator..

Terlihat segelas kopi diantara kesibukan sang navigator..

Setelah itu kami lanjutkan lagi perjalanan dan senja mulai tiba. Segala perlengkapan yang kami bawa untuk melawan dingin pun kami kenakan antara lain, baju 2 lapis, Jacket, Sarung tangan, Celana 2 lapis, kupluk tebal, senter dll. Walau begitu hawa dingin tetap terasa. Memang saya sadari sepenuhnya, mendaki gunung itu beresiko tinggi dan sangat dekat dengan marabahaya. Itulah sebabnya setiap saya hendak mendaki gunung saya selalu niat baik da lam hati, berdoa minta perlindungan pada Allah dan berhati-hati. Sudah banyak pendaki yang menjadi korban di gunung.

Kembali ke topik, tujuan kami saat ini adalah mencari tempat bermalam. Dimana itu adalah menjadi selter ke tiga bagi kami. Tempat dimana pendaki mendirikan tenda terakhir dan persiapan untuk melanjutkan perjalanan besok Setibanya.kai di shelter 3 kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tapi ternyata sangat sulit mencari tempat mendirikan tenda karena disini banyak pepohonan yang besar dan akar – akar yang besar timbul keatas permukaan tanah. Setelah mencari kesana kemari akhirnya kami dapatkan lokasi yag cukup bagus. Terletak di bawah pepohonan dan dekat jalur gajah sumatra, kami memberanikan diri bermalam di sekitar jalur tersebut karena menurut perkiraan kami gajah baru melewati jalur tersbut 2 hari yang lalu, hal itu terlihat dari jejek dan kotoran yang terdapat di sekitar jalur. Jadilah kami mendirikan tenda untuk tempat bermalam, beristirahat dan perlindungan dari cuaca buruk di luar. Sebelum tidur kami memasak untuk makan malam. Usai makan makan kami semua tidur untuk memulihkan dan mengumpulkan tenaga. Esok pagi kami akan melakukan Summit Attack atau mendaki ke puncak  gunung Leuhob.

Rumah kami di Gunong Leuhob..

Rumah kami di Gunong Leuhob..

Pagi hari kami bangun agak terlambat. Yang tadinya rencana bangun pukul 6 kami bangun pukul 6:30. Jujur saja disubuh itu saya sangat malas bangun karena dingin yang menusuk sampai ketulang. Semangat saya timbul setelah mengingat pencapaian saya yang susah sejauh ini. Segera saya packing membawa apa yang di butuhkan saat menuju puncak.

Mulai berjalan menjauhi tempat bermalam dengan langkah yang awalnya dengan semangat 45 dihantam hujan rintik – rintik yang membuat dingin semakin extrem saja. Sewaktu saya melihat ke sekeliling tampak kabut menyelimuti sekeliling kami. Kami mulai membuka jalur berjalan perlahan mencari puncak. Sungguh extrem jalur ini, kami berjalan di antara pepohonan rotan yang lebat,hujan tiada henti membuat jalur berlumpur yang membuat sepatu kadang terbenam sehingga sulit berjalan. Di tambah bila kabut meyelimuti membuat pandangan kami kurang jelas.. baru gunung Leuhob inilah saya mengalami hal semacam ini. Benar-benar gunung yang susah untuk di daki, butuh semangat dan keinginan kuat untuk bisa melewati rintangan yang ada.

salah satu jalur pendakian yang tergenang air..

salah satu jalur pendakian yang tergenang air..

Sekitar setengah hari kami berjalan tidak nampak puncak gunung leuhob,yang ada berupa rawa – rawa yang luas ditumbuhi rerumputan kalau kita berjalan diatas rumput – rumput tersebut agak terasa bergoyang seperti gempa terletak persis di sebelah kanan puncak gunung Leuhob.Kami terus berjalan melawati rawa – rawa tersebut sambil menentukan posisi kami di peta.Jam di tanganku menunjukan pukul 12.30,selama dalam perjalanan hujan rintik – rintik tiada henti membasahi kami sampai kami beristrirahat makan siang.

Rawa - rawa Gunung Leuhob sebagian diselimuti kabut

Rawa – rawa Gunung Leuhob sebagian diselimuti kabut

Lepas dari istirahat kami harus melanjutkan perjalan untuk mencari puncak. Medannya berupa pepohonan rotan. Sangat sulit berjalan di medan seperti ini karena banyak duri – duri yang siap menusuk.Disini bukan hanya kaki yang bekerja, tangan juga. Tenaga saya sudah terkuras habis disini, saya hampir saja putus asa dan merasa tidak saggup lagi melanjutkan perjalanan ini. Di pepohonan saya berhenti mengumpukan tenaga dan melihat koordinat di GPS dan-menimbang ini puncak atau bukan. Ternyata benar ini bukan puncak yang kami cari.Pikiran-pikiran itu berkecamuk hebat dalam otak saya.

Diantara lumut - lumut yang menyelimuti pepohonan.

Diantara lumut – lumut yang menyelimuti pepohonan.

Akhirnya setelah berpikir panjang dan kami berbalik mencari jalur yang lain. Saya tekatkan lagi berjalan menuju puncak !!! Kami mengubah strategi, berjalan perlahan namun pasti. Dalam artian berjalan dengan langkah pendek agar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga, namun tetap bergerak. Tapi tetap saja, tenaga saya memang sudah terkuras habis. Kaki ini terasa sagat berat untuk dilangkahkan. Namun tekad sudah saya tetapkan, harus terus mendorong batas kemampuan sampai puncak. Satu pikiran yang membuat saya semangat waktu itu adalah, orang pertaman berdiri di Puncak Gunung Leuhob. Gunung impian saya 1 tahun lalu, dan saat ini sedikit lagi saya sampai ke uncak impian itu. Perlahan namun pasti saya langkahkan kaki ini, menapaki terjalnya medan pendakian menuju puncak.Jam di tanganku menuju pukul 4.30,kata kawan – kawan sahabat pencinta alam,kita lanjutkan perjalanan besok,berhubung kita sangat kelelahan kami memutuskan untuk bermalam di sebuah pinggiran sungai yang sangat jernih airnya seperti air aqua dan bebatuan yang ada di sekitar sungai di selimuti oleh lumut.

Brrr...dingin airnya kawan..

Brrr…dingin airnya kawan..

Setelah melalui malam yang panjang dan pagipun tiba,kami bangun jam 7.00 makan,beres – berest dan melanjutkan perjalanan menuju puncak.Perjalanan memakan waktu 5 jam .Ada satu orang pendaki yang memberi semangat yang mengatakan puncak sudah di depan mata. Perkataan itu membuat semangat saya bagkit lagi. Segera saya percepat langkah dan tibalah saya di suatu dataran yang tidak lebar, inilah dia puncak Gunung Leuhob !!! Tepat jam 11.30 Alhamdulillah, Allahu akbar !!! itulah kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika sampai di puncak. Saiful Wadhan langsung mengumandangkan azan. Segera saya keluarkan bendera Mapala Jabal Everest yang saya bawa di dikibarkan di puncak.

Ini dia muazimnya Gunong Leuhob

Ini dia muazimnya Gunong Leuhob

Puncak Leuhob ini berbeda dari puncak-puncak gunung yang pernah saya pijak. Puncaknya sangat sempit, langsung berhadapan dengan jurang yang sangat dalam. Dan sewatu memandang ke sekitar, tidak ada yang luar biasa. Hanya terlihat lebatnya pepohonan yang luar biasa kami berdiri di ketinggian 2 000 meter dan bisa mencapai puncak gunung leuhob yang penuh misteri menurut masyarakat Blang pandak dan masyarakat Tangse. Sungguh beruntung saya mendapat kesempatan berdiri di puncak Gunung Leuhob ini, pengalaman yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Suatu kebanggan atas keberhasilan dari perjuangan panjang.

Ini dia wajah - wajah pendaki dari Jabal Everest.

Ini dia wajah – wajah pendaki dari Jabal Everest.

Setelah mengabadikan momen istimewa tersebut ke dalam kamera untuk kenangan, kami bergegas turun karena kabut mulai menebal dan hujan juga telah telah turun Menurut info yang saya dapatkan, karakteristik gunung Gunung Leuhob memang begitu. Hujan tidak pernah berhenti di sekitar gunung tersebut sehingga permukaan tanah berlumpur dan di beri nama Gunung Leuhob (Gunung Lumpur).

Target selanjutnya Gunung Ajibon..di dapan mata.

Target selanjutnya Gunung Ajibon..di depan mata.

Bila sewaktu mendaki kami butuhkan waktu lebih dari  2 hari dari desa Blang pandak Saat turun kami cuma habiskan waktu sekitar 6 jam hingga tiba di kampung terakhir. Kaki pun mulai melangkah turun. Buat masalah turun gunung itu adalah bagian yang saya sukai. Karena saya bisa meluncur di pasir untuk turun. Sangat banyak pengalaman baru yang saya dapatkan di gunung Leuhob ini, ini semua adalah pengalaman berharga yang mungkin tak akan terlupakan seumur hidup saya.

Singkat cerita sampailah kami di desa Balng pandak. Disana kami beristirhat di depan sebuah batu besar menghadap ke arah gunung Halimon Wow…pemandangan dari sini pun tak kalah indahnya. dari sini.

Sebagian aktivitas warga Blang Pandak

Sebagian aktivitas warga Blang Pandak

Masak sudah, kini saatnya bersantap siang. Hmm…dengan rasa lapar seperti ini menu sederhana berupa mie instan, sarden dan sambal kering teri kacang,daun paku di santap habis. Setelah makan kami sambung lagi dengan minum capucino. pulihlah sudah tenaga, kembalilah sudah kalori yang kami keluarkan. Kami merencanakan ke sekret malam dengan. Sementara saat ini jam masih menunjukan pukul 17.30 . Hmm…segera saja kami manfaatkan jeda waktu yangada untuk tidur. Memulihkan tenaga agar kondisi badan fit saat turun  tadi. Tidur sebentar namun nyenyak karena kecapean, akhirnya kami bangun segera berkemas dan bersiap untuk balik.

Alhamdulilah, satu petualangan baru telah saya lakukan untuk menambah daftar tempat-tempat eksotis yang pernah saya datangi. salah satunya ini, Gunung Leuhob. Sebuah gunung yang amat indah. Akhirnya saya berhasil sampai kesini dan Terima Kasih Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah menginjinkan saya menikmati salah satu alam indah ciptaanNya.

Oke, sepertinya sampai disni dulu saya bercerita tentang petualnagan saya mendaki gunung Leuhob berketinggian 2.000 meter. Namun cerita saya menjelajahi gunung Aceh ini belum usai. Usai sukses pendakian gunung Leuhob ini saya melanjutkan pendakian ke Gunung Peut Sago. Nantikan kelanjutan kisah pendakian saya ke Gunung Peut Sagoe di postingan yang akan datang. Akhir kata saya ucapakan terima kasih untuk pembaca setia blog saya ini. Bila berkenan marilah kita berkomunikasi melalui kotak komentar yang ada di bawah. Terima kasih.

Anggota team ekpedisi Gunung Leuhob..

Anggota team ekpedisi Gunung Leuhob saat pelepasan oleh Purek III ..

 

By.Almahdi